Menjaga Nafas 'Padi Kaisar' di Kaki Gunung Halu
📅 Kamis, 01 Jan 2026, 05:23 WIB | Oleh: Opik"Tanggal 1 Januari 2026, tepat pukul 00.00 lewat 1 menit, penyaluran pupuk bersubsidi sudah berjalan. Kami berlomba agar petani tidak menunggu," ujarnya tegas.
Tahun 2025, Jawa Barat mendapat alokasi pupuk subsidi semua jenis (urea, NPK, organik, ZA, dan SP-36) sebesar 1,1 juta ton dari total nasional 9,55 juta ton. Hingga akhir Desember, realisasi penyerapan mencapai 891.000 ton atau sekitar 80 persen.
Sisa angka yang belum terserap itu bukan sekadar statistik, melainkan diakui Donny sebagai cermin dinamika daya beli petani dan akurasi data di lapangan.
"Yang pertama mungkin tidak tersosialisasi hingga ada petani tidak terdaftar, ini pekerjaan rumah, kita harus cari cara agar bisa memperkuat aspek ini tentu kolaborasi dengan pemerintah. Dan masalah krusial kedua daya beli juga," kata Donny.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan keputusan penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sampai 20 persen mulai 22 Oktober 2025, Donny mengatakan hal ini seakan menjadi angin segar bagi kaum tani untuk turut juga mewujudkan ketahanan pangan sekaligus cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.
Juhdi mengakui, kehadiran pupuk subsidi seperti yang kerap dipakainya, yakni Urea dan NPK dengan penurunan harga, adalah oase bagi para petani di tengah padang gurun yang penuh tantangan.
Tak terkecuali dirinya yang meracik satu kuintal pupuk subsidi dengan dipadukan bersama organik racikan sendiri bagi satu hektare lahan,adalah resep menjaga Beas Hideung tetap bernas.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Penurunan harga pupuk subsidi dan ketersediaannya sangat membantu. Kalau pupuk murah, satu beban pikiran petani hilang. Biaya itu bisa kami alihkan untuk pengolahan tanah," kata Juhdi.
Namun demikian, distribusi pupuk bersubsidi bukan tanpa aral. Cerita klasik tentang petani yang sulit menebus pupuk atau data yang "gaib" kerap terdengar.
Untuk memangkas benang kusut itu, digitalisasi juga menjadi jalan pedang yang dipilih Pupuk Indonesia melalui aplikasi i-Pubers.
Dengan aplikasi tersebut, distribusi pupuk dari fasilitas produksi, ke gudang yang di Jawa Barat ada 3.207 unit di 27 kabupaten/kota, lalu ke distributor, kios, hingga ke petani terjaga dan tepat sasaran.
Di Kios Akbar Jaya, Yulia Septia Wahyuni (32), generasi ketiga pengelola kios pupuk di Gunung Halu itu, menjadi saksi perubahan zaman.
Dari era distribusi seadanya pada zaman neneknya di tahun 1990-an, hingga sistem T-Pubers yang menurutnya menantang dengan sistem yang masih semi manual, kini ia tersenyum lega dengan i-Pubers.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!