Wali Kota Bandung: Kualitas Hidup dan Kebugaran Harus Dihitung sebagai Indikator Kesejahteraan Pekerja
📅 Kamis, 18 Des 2025, 19:20 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Humas Kota Bandung
BANDUNG - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara kepentingan pekerja dan pengusaha pada Rapat Lembaga Kerja Sama (LKS) Tripartit dan Dewan Pengupahan Kota (DPK) yang digelar di Hotel Santika Bandung, Rabu ( 17/12).
Dalam forum yang dihadiri unsur pemerintah, pengusaha, serikat pekerja, serta Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut, Wali Kota Farhan menekankan, Pemerintah Kota Bandung berperan sebagai fasilitator utama dalam membangun hubungan industrial yang harmonis, adil, dan berkelanjutan.
“Kita tidak boleh membiarkan salah satu pihak merasa dirugikan demi keuntungan pihak lain. Hubungan pekerja dan pengusaha harus dijaga agar tetap kondusif dan produktif,” ujar Wali Kota Farhan.
Wali Kota Farhan menyampaikan, pendekatan penetapan upah ke depan tidak cukup hanya berfokus pada kebutuhan hidup minimum dan inflasi. Menurut dia, kualitas hidup dan kebugaran pekerja harus mulai dihitung sebagai indikator kesejahteraan.
Ia bahkan mengungkapkan data survei konsumsi masyarakat dari Badan Pusat Statistik yang menunjukkan tingginya konsumsi makanan dan minuman manis di Kota Bandung, termasuk minuman kemasan berpemanis dan soda.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kalau penyakit degeneratif seperti diabetes meningkat, dampaknya sistemik. Produktivitas turun, biaya BPJS naik, dan dunia usaha ikut terdampak,” kata Wali Kota Farhan.
Karena itu, Pemkot Bandung berencana mendorong program skrining kesehatan gratis bagi pekerja, sebagai langkah pencegahan dini sekaligus bagian dari strategi menjaga produktivitas tenaga kerja.
Farhan menegaskan, visinya agar pekerja di Kota Bandung “naik kelas”, tidak sekadar bertahan hidup, tetapi memiliki daya saing dan kebugaran yang menunjang produktivitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Negosiasi ke depan jangan lagi soal tidak bisa beli beras. Itu harus sudah selesai. Kita harus bicara produktivitas, kebugaran, dan kualitas hidup,” kata dia.
Ia menilai peningkatan kesejahteraan pekerja justru akan berdampak positif bagi pengusaha karena tenaga kerja yang sehat dan produktif akan meningkatkan kinerja perusahaan.
Wali Kota Farhan juga mengingatkan adanya kecenderungan meningkatnya kesenjangan sosial. Meski tingkat kemiskinan Kota Bandung turun menjadi 3,78 persen, ia mencermati pergeseran struktur desil pendapatan yang menunjukkan kelompok rentan justru masih cukup besar.
“Kelas pekerja adalah jembatan untuk menutup kesenjangan sosial. Dan pengusaha adalah pihak yang memperkuat kelas pekerja,” ujar dia.
Ia menambahkan, sebagian besar penurunan pengangguran masih terjadi di sektor informal yang sulit dikendalikan dari sisi produktivitas dan perlindungan tenaga kerja.
Selain itu, Pemkot Bandung juga akan memperkuat sektor MICE, pariwisata, olahraga, medical tourism, serta melakukan beautifikasi 17 ruas jalan utama kota sebagai bagian dari penguatan identitas pariwisata dan ekonomi perkotaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!