Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Sinyal Darurat S.O.S Hutanabolon, Tolong Selamatkan Kami !!!

📅 Selasa, 09 Des 2025, 19:27 WIB | Oleh:
Sinyal Darurat S.O.S Hutanabolon, Tolong Selamatkan Kami !!! Doc: ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo
Ket. Tumpukan balok-balok kayu yang terbawa banjir menghancurkan rumah beserta fasilitas umum di Lingkungan IV, Kelurahan Hutanabolon, Tukka, Tapanuli Tengah Sumatera Utara, Minggu (7/12).

TAPANULI TENGAH, SUMATERA UTARA - Setelah membaca tulisan ini ada baiknya kita memejamkan mata sejenak, barang tiga detik saja, untuk menghayati apa yang sedang dialami warga Hutanabolon di Tapanuli Tengah.

Tolong selamatkan kami !!!

Itulah seruan paling jujur yang terus bergema dari Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sampai Senin (8/12) atau hari ke-13, setelah kampung itu porak-poranda diterjang banjir bandang dan longsor yang datang begitu cepat dan menghancurkan. Lebih dari 300 keluarga kini hidup dalam keterisolasian, akses jalan utama lenyap, gereja dan masjid hancur dan sebagian besar wilayah desa dan kawasan Lingkungan tidak lagi dapat dikenali bentuknya.

Pagi di Hutanabolon tidak lagi dimulai dengan kicau burung atau aktivitas warga menapaki jalan menuju kota. Sebaliknya, udara lembap yang membawa bau lumpur menyambut setiap langkah pendatang.

Jalan utama yang dahulu menjadi nadi pergerakan warga, kini berubah menjadi aliran air dangkal yang terus menggerus tanah dan membawa serpihan bangunan yang sudah tidak mungkin dipulihkan.

Di masa lalu, Sungai Aek Malaka mengalir tenang di pinggir desa, menjadi sumber air, sekaligus bagian dari keseharian warga. Banjir bandang membuat sungai itu berpindah arah, menyeret kayu gelondongan, batu besar, dan tanah dalam volume luar biasa, lalu menumpahkannya ke pusat permukiman. Perubahan jalur itulah yang membuat Lingkungan IV dan sekitarnya menjadi titik kehancuran terparah. Rumah-rumah yang dulu berdiri rapat, berganti menjadi tumpukan kayu yang menggunung.

Warga yang selamat masih berusaha memahami bagaimana kampung yang mereka tinggali selama puluhan tahun bisa hilang dalam hitungan jam. Suara arus kecil yang kini mengalir di bekas jalan justru menjadi pengingat pahit tentang deru air yang melibas apa pun yang berdiri di hadapannya.

20251209192133_1000008066.jpeg

Banjir susulan mengalir deras pada ruas jalan dan persawahan yang sudah seperti sungai di Lingkungan IV, Kelurahan Hutanabolon, Tukka, Tapanuli Tengah Sumatera Utara, Minggu (7/12). Antara/M Riezko Bima Elko Prasetyo

Di antara warga yang setiap hari tak pernah berhenti bergerak adalah Hura (35). Ayah tiga anak itu menghabiskan waktunya memanggul karung beras, mi instan, atau air mineral menuju Tapianauli dan Siantar Gunung, dua wilayah perbukitan yang terisolasi total, sejak jalan akses hilang tertimbun material.

Jalur yang ia tempuh bukan lagi jalan roda dua atau roda empat, melainkan setapak hutan yang licin setelah hujan, sempit, dan menanjak. Dalam sekali perjalanan, ia harus menempuh hingga empat jam lebih berjalan kaki dengan beban di punggungnya.

Itu belum seberapa. Pada 2-3 hari pertama setelah gerombolan air itu melanda 25 November lalu, tak sedikit warga berjalan selama 14 jam, berangkat pukul 04.00 WIB subuh - waktu Maghrib, dari sebuah kampung di Desa Saurmanggita menuju ke posko utama GOR Pandan, demi mendapatkan beras, minyak, mi goreng, gula, hingga biskuit bantuan dan pakaian bersih.

"Tetap harus menjemput bantuan dan naik lagi ke bukit. Mana ada yang mau orang antar sampai depan rumah, berpikir saja kita. Kita yang tahu keluarga sedang kelaparan,” ujarnya singkat, sambil mengusap keringat yang turun tanpa henti. Lumpur kering yang menempel di bajunya menjadi bukti berapa banyak langkah berat yang telah ia lalui.

Kembali ke Lingkungan IV, pemandangan yang terbentang selalu menghentikan langkahnya sejenak. Di tepi sisa pondasi sebuah rumah, Murni (44) duduk sambil memandang tumpukan puing yang dulu menjadi tempat tinggalnya. Tangan kirinya menggenggam pecahan genteng, sementara tangan kanannya berulang kali menyentuh tanah di mana dapur rumahnya pernah berdiri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Wamenaker Ajak Mahasiswa Pe...
Luar Negeri
Presiden Tiongkok Xi Jinpin...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Berapa Ranking FIFA Indonesia Jika Menang Melawan Mozambik?

Berapa Ranking FIFA Indonesia Jika Menang Melawan Mozambik?

09 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 5
# 5
Ratifikasi IEU-CEPA Dorong Daya Saing
# 8
Konflik Timteng Picu Inflasi Global
📅 Selasa, 09-Jun-2026
# 8
Konflik Timteng Picu Inflasi Global
📅 Selasa, 09-Jun-2026
Konflik Timteng Picu Inflasi Global
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.