Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ekspansi Lahan Bisa Picu Bencana Ekologis

📅 Jumat, 05 Des 2025, 06:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ekspansi Lahan Bisa Picu Bencana Ekologis Doc: istimewa

JAKARTA – Peringatan mengenai potensi berlanjutnya bencana lingkungan menegaskan bahwa Indonesia menghadapi risiko ekologis yang semakin serius jika langkah pencegahan tidak segera diambil.

Proyek berskala besar, seperti food estate yang telah mengonversi sekitar 3,2 juta hektare (ha) hutan serta masifnya aktivitas pertambangan, mempercepat degradasi ekosistem dan memperbesar ancaman banjir, longsor, hingga krisis air bersih.

Tanpa reformasi tata kelola lahan, evaluasi dampak lingkungan secara ketat, serta penegakan hukum atas eksploitasi berlebihan, tekanan terhadap bentang alam akan terus meningkat.

Karenanya, pemerintah perlu mengalihkan fokus dari ekspansi lahan ke intensifikasi berkelanjutan dan penguatan perlindungan hutan agar rantai bencana ekologis tak makin panjang di masa depan.

Deputi Eksternal Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Mukri Friatna menegaskan pihaknya menolak keras rencana pembukaan kawasan hutan seluas 3,2 juta ha untuk proyek Food Estate atau lumbung pangan.

Lokasi proyek tersebut di antaranya terdapat di Papua Selatan.

Di Papua, lanjutnya, hutan dibabat untuk proyek ini seluas 2 juta hektar, sementara di Sumatera, tepatnya di Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Selatan (Sumsel), dijadikan objek Proyek lumbung pangan ini.

“Melihat rencana tersebut bahkan tapak proyek yang mulai berjalan, itulah salah satu indikator perhitungan Walhi menyebut perkiraan deforestasi meningkat antara 200-250 persen,” ungkap Mukri kepada Koran Jakarta, Kamis (2/12).

Walhi juga menolak rencana pemerintah terkait pemanfaatan kawasan hutan seluas 20 juta ha program ketahanan pangan.

Kendatipun Menteri Kehutanan mengatakan skema ini menggunakan sistem agroforestri atau tumpang sari, namun tetap saja dikhawatirkan menjadi sumber bencana.

Mukri menjelaskan persoalan deforestasi sejak Januari lalu, Walhi memandangnya sangat krusial.

Ada dua hal sebagai faktor yang menjadi pertimbangan serius.

Pertama, angka deforestasi pada 2024 sebesar 278 ribu ha.

Kedua, kemampuan rencana tanam (reforestasi) berdasar RAPBN 2025 hanya seluas 36 ribu ha.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Apakah Ada yang Tahu Apa Itu Jelekongism

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Rona
Apakah Ada yang Tahu Apa It...

Pelatih PSS: Banyak Sekali yang Harus Dibenahi

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Pelatih PSS: Banyak Sekali ...
Olahraga
Marc Marquez Juara Sprint M...
Olahraga
Sinner Mundur dari Shanghai...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.