Sinyal Kuat dari Airlangga: Risiko Terserap, Ekonomi 2026 Dipastikan Cerah!
📅 Jumat, 28 Nov 2025, 22:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Rizka Khaerunnisa
JAKARTA – Risiko pertumbuhan ekonomi pada 2026 dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik yang saling terkait.
Ketidakpastian ekonomi dunia—seperti perlambatan perdagangan global, volatilitas harga komoditas, serta dinamika kebijakan moneter negara maju—dapat menekan permintaan ekspor Indonesia dan mempengaruhi stabilitas nilai tukar.
Di dalam negeri, tantangan berupa realisasi investasi, efektivitas belanja pemerintah, serta daya beli masyarakat menjadi penentu utama kekuatan pertumbuhan.
Selain itu, risiko cuaca ekstrem dan gangguan rantai pasok masih membayangi sektor pangan dan energi.
Meski deikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai bahwa hampir seluruh risiko pertumbuhan ekonomi 2026 telah terserap pada tahun ini, sehingga prospek ekonomi tahun depan diperkirakan semakin positif.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal itu disampaikan Airlangga saat menyampaikan kata sambutannya di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) Tahun 2025.
“Risiko yang akan muncul seluruhnya sudah price-in, sudah masuk di dalam tingkat suku bunga dan harga-harga termasuk rupiah di tahun ini. Sehingga untuk tahun 2026 yang kita lihat adalah upside risk, Pak Presiden. Dengan baseline di 5,4 persen sesuai dengan APBN. Jadi kita berharap dan optimis tahun depan akan lebih baik dari tahun ini,” kata Airlangga di Jakarta, Jumat (28/11).
Proyeksi fundamental dan tren pertumbuhan ekonomi positif pada 2026. Hal ini terindikasi dari adanya peningkatan konsumsi masyarakat menurut Mandiri Spending Index dengan indeks berada di angka 312 pada November 2025 atau di atas threshold yang sebesar 300.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hingga September 2025, investasi tercatat mengalami peningkatan sebesar 13,7 persen secara year on year (yoy) mencapai Rp1.434 triliun. Belanja pemerintah juga terus dipercepat dengan realisasi belanja kementerian/lembaga per 24 November mencapai Rp1.109 triliun.
Sementara dari aspek moneter, sepanjang tahun 2025, Bank Indonesia (BI) telah memangkas BI-Rate sebesar 125 basis point (bps) sehingga menjadi berada di posisi 4,75 persen, mendorong kredit usaha dan belanja.
Inflasi tercatat 2,86 persen secara yoy pada Oktober, terkendali dalam rentang sasaran target nasional. Airlangga menyampaikan bahwa hal ini dipengaruhi oleh konsistensi kebijakan suku bunga BI serta dorongan insentif fiskal pemerintah dalam melakukan ekspektasi inflasi.
“Inflasi dapat berhasil tahun ini melalui sinergi kebijakan fiskal, moneter, sektor riil, dan koordinasi daerah,” kata Airlangga.
Adapun hingga 30 September 2025, belanja kementerian dan lembaga yang di-tagging untuk pengendalian inflasi sudah terlaksana sekitar 67 persen atau Rp67,24 triliun.
Selanjutnya, Airlangga melaporkan berbagai program yang telah dijalankan pemerintah. Gerakan Pasar Murah (GPM) sampai dengan 21 November 2025 telah terlaksana di lebih dari 11 ribu titik.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!