Masjid di Sleman Borong 11 Ton Singkong, Bantu Petani Gunungkidul Terselamatkan dari Harga Anjlok Cuma Rp500/Kg
📅 Selasa, 12 Agu 2025, 12:05 WIB | Oleh: Alfina Febriyana
Doc: Masjid Nurul 'Ashri Sleman
JAKARTA - Di tengah anjloknya harga singkong di Gunungkidul yang hanya menyentuh Rp500 per kilogram, sebuah aksi nyata penuh kepedulian datang dari Masjid Nurul ‘Ashri di Sleman.
Masjid yang berlokasi di Deresan, Caturtunggal, Depok, ini tergerak hati untuk meluncurkan program jasa titip (jastip) pembelian singkong demi menyelamatkan petani dari kerugian.
Langkah ini bukan main-main. Dalam hitungan hari sejak dimulai pada 8 Agustus 2025, masjid ini sudah memborong 11 ton singkong dari petani di Desa Petir, Rongkop, Gunungkidul.
Sunyoto, perwakilan divisi program Masjid Nurul ‘Ashri, mengungkap bahwa ide ini muncul ketika mereka sedang mengirim bantuan air bersih dan sayuran ke desa-desa binaan.
Seorang warga bercerita bahwa harga singkong terjun bebas, memaksa banyak petani mengolahnya menjadi gaplek. Namun, hujan membuat sebagian gaplek berjamur dan tak layak jual.
Sebaiknya Anda baca juga:
Melihat kondisi itu, pihak masjid langsung bergerak. Singkong dibeli dari petani dengan harga Rp2.000 per kilogram, empat kali lipat dari harga tengkulak dan dijual kembali melalui jastip sebesar Rp3.000 per kilogram. Selisihnya digunakan untuk biaya operasional, termasuk tenaga angkut.
Yang mengejutkan, mayoritas pembeli jastip tidak mengambil singkongnya, melainkan langsung menyedekahkannya untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Dari total 11 ton singkong, kurang dari 3 ton yang diambil pembeli, sisanya siap disalurkan sebagai bantuan pangan.
Meski begitu, Sunyoto mengakui biaya distribusi belum mencukupi. Karena itu, pihak masjid menggandeng Bank Indonesia, mitra relawan, dan masjid lain untuk membantu menyalurkan singkong ke berbagai wilayah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut para petani, anjloknya harga terjadi karena pabrik tepung singkong di sekitar wilayah belum beroperasi, membuat stok melimpah dan serapan pasar rendah. Program ini direncanakan berlangsung hingga pertengahan September dan akan diperluas ke desa lain jika sukses.
Masjid Nurul ‘Ashri memang dikenal aktif membantu petani. Sebelumnya, mereka pernah memborong sayur mayur petani Magelang saat harganya jatuh. Takmir masjid berharap gerakan ini menginspirasi masjid-masjid lain di seluruh Indonesia untuk menjadi penyangga harga hasil tani.
Di tengah gempuran ekonomi yang tak menentu, aksi Masjid Nurul ‘Ashri membuktikan bahwa rumah ibadah pun bisa jadi garda terdepan penyelamat petani, bukan hanya lewat doa, tapi lewat aksi nyata yang mengenyangkan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!