Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pencurian Museum Louvre Paris: Misteri Pria Modis yang Viral di Hari Perampokan Mahkota Napoleon

📅 Senin, 10 Nov 2025, 10:42 WIB | Oleh:

"Dia bilang ada 5 juta tayangan," katanya. "Saya agak terkejut."

Kemudian ibunya menelepon dan mengabarkan bahwa ia ada di New York Times. "Tidak setiap hari," katanya. Sepupu-sepupu di Kolombia, teman-teman di Austria, teman keluarga, dan teman sekelas menyusul dengan tangkapan layar dan panggilan telepon.

"Orang-orang bilang, 'Kamu sudah jadi bintang,'" katanya. "Saya takjub, cuma dengan satu foto, kamu bisa viral dalam beberapa hari."

Penampilan yang mengejutkan puluhan juta orang ini bukanlah kostum yang dibuat untuk kunjungan ke museum. Pedro mulai berdandan seperti ini kurang dari setahun yang lalu, terinspirasi oleh sejarah abad ke-20 dan gambar hitam-putih para negarawan berjas dan detektif fiktif.

"Saya suka tampil modis," katanya. "Saya bersekolah seperti ini."

Dan topinya? Tidak, itu ritualnya sendiri. Fedora hanya dipakai untuk akhir pekan, hari libur, dan kunjungan museum.

Dia mengerti mengapa orang-orang memproyeksikan karakter detektif yang utuh padanya: perampokan yang tak terduga, detektif yang tak terduga. Dia menyukai Poirot—"sangat elegan"—dan menyukai gagasan bahwa kejahatan yang tak biasa membutuhkan seseorang yang berpenampilan tak biasa. "Ketika sesuatu yang tak biasa terjadi, kita tak membayangkan detektif biasa," katanya. "Kita membayangkan seseorang yang berbeda."

Naluri itu cocok dengan dunia asalnya. Ibunya, Félicité Garzon Delvaux, tumbuh besar di istana museum abad ke-18, putri seorang kurator dan seniman – dan rutin mengajak putranya ke pameran.

“Seni dan museum adalah ruang hidup,” ujarnya. “Hidup tanpa seni bukanlah hidup.”

Bagi Pedro, seni dan citraan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Maka, ketika jutaan orang memproyeksikan kisah ke dalam satu bingkai foto dirinya mengenakan fedora di samping polisi bersenjata di Museum Louvre, ia menyadari kekuatan sebuah citraan dan membiarkan mitos itu berhembus.

Dia diam saja selama beberapa hari, lalu mengubah Instagram-nya dari pribadi menjadi publik.

"Orang-orang harus berusaha mencari tahu siapa saya," ujarnya. "Lalu para jurnalis datang, dan saya memberi tahu mereka usia saya. Mereka sangat terkejut."

Dia santai saja dengan apa pun yang akan terjadi selanjutnya. "Saya menunggu orang-orang menghubungi saya untuk membuat film," katanya sambil menyeringai. "Pasti lucu sekali."

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
DLH Cirebon Kerahkan 9 Truk...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.