Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Anggota DPR Desak Penguatan Sekolah Ramah Anak Usai Peristiwa Ledakan SMAN 72 Jakarta

📅 Minggu, 09 Nov 2025, 14:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Anggota DPR Desak Penguatan Sekolah Ramah Anak Usai Peristiwa Ledakan SMAN 72 Jakarta Doc: ANTARA
Ket. Siswa SMAN 72 Jakarta mengambil barang-barang seperti sepatu, tas, laptop dan sepeda yang tertinggal di sekolah usai insiden ledakan pada Jumat (7/11)

JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR RI Selly Andriany Gantina mendesak pemerintah serta pihak sekolah agar melakukan penguatan sekolah ramah anak sebagai wujud evaluasi atas kejadian ledakan di SMA Negeri (SMAN) 72 Jakarta pada Jumat (7/11).

“Ramah anak bukan sekadar slogan di dinding sekolah. Itu harus nyata dalam sistem, ada kanal aduan yang aman, ada pendidikan anti-bullying, serta ruang dialog antara anak, guru, dan orang tua,” ujar Selly dikutip di Jakarta, Minggu (9/11).

Diketahui, ledakan terjadi di SMAN 72 Jakarta saat kegiatan keagamaan sedang berlangsung di sekolah. Peristiwa itu menyebabkan 54 orang terluka, sebagian besar siswa kini masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Jakarta.

Diketahui pula, pelaku pengeboman diduga merupakan siswa berusia 17 tahun yang mengalami tekanan sosial dan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah. Menanggapi itu, Selly pun menyebut tragedi itu sebagai peringatan serius bahwa banyak sekolah di Indonesia belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi anak.

Ia juga menyoroti pandangan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menilai pelaku kurang mendapatkan perhatian dari orang tua dan sekolah. Selly lalu menegaskan bahwa masalah tersebut harus dilihat dalam konteks tanggung jawab sistemik.

“Masalahnya bukan hanya di rumah atau di sekolah, melainkan juga di ekosistem perlindungan anak yang belum bekerja optimal. Anak kehilangan ruang aman untuk bicara, kehilangan yang mau mendengar,” ucapnya.

Mantan Wakil Bupati Cirebon itu menyampaikan bahwa saat ini banyak anak yang melampiaskan rasa terasing dan kegelisahan ke ruang digital, di mana konten ekstrem bisa menjerumuskan.

“Jika sekolah tidak ramah dan rumah tidak menjadi tempat curhat, maka media sosial mengambil alih fungsi pendidikan emosional anak. Itu yang berbahaya,” kata dia.

Sebagai anggota DPR RI yang membidangi isu sosial, keagamaan, dan perlindungan anak, Selly menekankan penanganan pascatragedi tidak cukup hanya secara medis. Ia menilai trauma akibat peristiwa tersebut bersifat komunal dan berdampak pada seluruh lingkungan sekolah.

“Anak yang tidak terluka pun bisa trauma. Guru, staf, hingga orang tua juga terdampak secara psikis. Maka, pemulihan psikotraumatik harus dilakukan menyeluruh, bukan selektif,” ujarnya.

Selly juga menilai, kejadian itu bukan sekadar bencana fisik, melainkan juga meninggalkan dampak psikologis luas bagi seluruh ekosistem sekolah, mulai dari siswa, guru, orang tua, hingga tenaga pendukung.

Oleh karena itu, dia pun mendorong Kementerian PPPA, Dinas Pendidikan, dan KPAI untuk segera membentuk Tim Respons Krisis Sekolah yang melibatkan psikolog, guru BK, serta perwakilan orang tua. Tim tersebut diharapkan mampu melakukan asesmen psikologis dan menyusun program pemulihan kolektif pascatrauma di lingkungan sekolah.

Ia juga menekankan pentingnya literasi digital dan komunikasi empatik bagi orang tua agar mampu mengenali tanda-tanda anak mengalami perasaan tertekan.

“Banyak orang tua tidak sadar, perubahan kecil pada perilaku anak bisa menjadi sinyal bahaya. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali kemampuan komunikasi yang peka,” kata dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Daftar Lokasi Samsat Kelili...

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.