Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kasus Dugaan Keracunan Siswa, Wali Kota Yogyakarta Tunda Layanan Dapur MBG

📅 Jumat, 17 Okt 2025, 15:30 WIB | Oleh:
Kasus Dugaan Keracunan Siswa, Wali Kota Yogyakarta Tunda Layanan Dapur MBG Doc: Dok. Pemkot Yogya

YOGYAKARTA - Pemerintah Kota Yogyakarta bergerak cepat menindaklanjuti kasus dugaan keracunan makanan yang dialami puluhan siswa SMA Negeri 1 Yogyakarta dan SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta. Mereka mengalami gejala sakit setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo turun langsung melakukan penelusuran pada Kamis (16/10/2025). Ia berdialog dengan pihak sekolah, mengunjungi salah satu siswa yang sakit, dan meninjau dapur penyedia makanan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Wirobrajan.

Menurut Hasto, kasus bermula saat para siswa mengonsumsi makanan sekitar pukul 11.20 WIB. Sekitar 12 jam kemudian, mereka mulai mengalami gejala seperti sakit perut, mual, muntah, dan diare.

“Kasus ini terjadi setelah siswa mengonsumsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di Wirobrajan,” ujar Hasto.

Sebagai dokter, Hasto menjelaskan bahwa jeda waktu munculnya gejala menjadi petunjuk penting dalam analisis awal penyebab keracunan. “Kalau itu karena toksik non-bakterial, gejala biasanya muncul cepat, hanya beberapa menit sampai beberapa jam setelah makan. Tapi kalau ini jaraknya lama, antara 12 sampai 13 jam. Sehingga dugaan saya, kalau itu ada hubungannya dengan makanan, maka penyebabnya adalah bakterial,” jelasnya.

Data dari dua sekolah menunjukkan, sedikitnya 32 siswa SMAN 1 Yogyakarta tidak masuk pada Kamis pagi karena sakit, sedangkan di SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta jumlahnya mencapai sekitar 65 siswa. Gejala yang mereka rasakan serupa, mulai dari sakit perut, muntah, diare, hingga tubuh lemas.

Setelah meninjau sekolah, Wali Kota langsung mendatangi SPPG Wirobrajan untuk memastikan penanganan di sumber penyedia makanan. Ia menegaskan bahwa layanan dapur tersebut akan dihentikan sementara sampai seluruh hasil pemeriksaan laboratorium keluar.

“Kita tidak bisa mengambil risiko. Layanan dari SPPG ini harus dihentikan terlebih dahulu sampai hasil uji laboratorium keluar,” tegasnya.

Sisa makanan dari dapur SPPG telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) DIY untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk uji kultur bakteri guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

Usai dari lokasi dapur, Hasto juga mengunjungi salah satu korban, Aksania Raya Santoso Putri, siswa kelas 12 SMAN 1 Yogyakarta. Ia menyampaikan empati dan memastikan seluruh siswa yang terdampak akan mendapatkan penanganan medis dengan cepat.

Pemerintah Kota Yogyakarta berkomitmen melakukan investigasi menyeluruh agar insiden serupa tidak terulang. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang selama ini menjadi andalan pemenuhan gizi siswa sekolah, kini mendapat sorotan untuk memperketat pengawasan kualitas bahan, kebersihan dapur, serta distribusi makanan.

Aksania menceritakan bahwa dirinya mengalami sakit perut hebat dan buang air besar berkali-kali setelah mengonsumsi makanan MBG. “Di kelas saya ada 19 orang yang gejalanya sama. Sakit perut, terus BAB berkali-kali,” ungkapnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.