Bukan Tebang Kayu, Papua Dorong Hutan Jadi Sumber Cuan
📅 Selasa, 11 Agu 2026, 16:35 WIB | Oleh: Tim PenulisJAYAPURA – Pengembangan usaha masyarakat berbasis hasil hutan bukan kayu (HHBK) dapat menjadi strategi untuk meningkatkan nilai ekonomi hutan tanpa bergantung pada penebangan kayu.
Produk seperti madu, rotan, bambu, tanaman obat, dan hasil olahan lainnya berpotensi menjadi sumber pendapatan sekaligus mendorong ekonomi masyarakat sekitar hutan.
Kuncinya adalah memperkuat kapasitas produksi, pengolahan, akses pasar, pembiayaan, dan kepastian tata kelola agar HHBK tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi berkembang menjadi produk bernilai tambah dan berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua melalui Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) setempat terus mengembangkan usaha masyarakat berbasis HHBK sebagai upaya meningkatkan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian hutan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DKLH Provinsi Papua Yaconias Maitindom di Jayapura, Selasa (11/8), mengatakan pengelolaan hutan tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan kayu, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai sumber pangan, usaha, jasa lingkungan, dan pendanaan iklim.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Prinsipnya adalah meningkatkan pendapatan per satuan hasil, bukan meningkatkan pendapatan dengan memperbanyak penebangan," katanya.
Dia menjelaskan pengembangan usaha masyarakat dilakukan melalui perhutanan sosial dan hutan adat, penguatan Kelompok Tani Hutan (KTH), Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), koperasi, serta Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA).
"Sehingga kami memberikan pendampingan mulai dari pemetaan potensi dan akses legal, penguatan kelembagaan, pelatihan produksi, bantuan sarana produksi, hingga pendampingan usaha dan pemasaran,"katanya lagi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih lanjut ia mengatakan DKLH Papua juga mendorong pengolahan produk agar memiliki nilai tambah sehingga masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu mengolah, mengemas, dan memasarkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
"Pada kegiatan pengembangan usaha perhutanan sosial kami mencatat telah melakukan pendampingan pada lima kampung, yakni Maruway, Armopa, Maribu, Sewan, dan Doyo Lama, dengan sasaran KTH/KUPS sekitar 123 peserta," ujar dia lagi.
Menurut Yaconias, masih banyak sejumlah komoditas yang berpotensi dikembangkan masyarakat antara lain madu hutan, minyak kayu putih, minyak atsiri, jamur tiram, buah dan produk olahan mangrove, gaharu, damar, rotan, bambu, tanaman obat, serta buah-buahan hutan.
"Selain HHBK ada juga pengembangan komoditas agroforestri seperti kakao, kopi, pala, vanili, dan matoa yang dapat ditanam tanpa membuka hutan alam," ujar dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!