Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Lindungi Anak dari Dampak Digital, Kemen PPPA Dorong Aturan Pembatasan Gawai

📅 Rabu, 01 Okt 2025, 23:20 WIB | Oleh: Tim Penulis

Terakhir, kolaborasi peran pemangku kepentingan.

Waktu yang tepat cari pertolongan ahli atasi remaja kecanduan gadget

Psikolog klinis forensik lulusan Universitas Indonesia (UI) Kasandra Putranto membagikan informasi mengenai waktu yang tepat bagi orang tua maupun pendamping dari remaja mencari pertolongan ahli untuk mengatasi masalah kecanduan gadget.

"Tanda utamanya adalah ketika gadget bukan sekadar alat hiburan lagi, tapi sudah mengganggu kesehatan mental, fisik, dan fungsi sosial anak," kata Kasandra kepada ANTARA, Rabu.

Kecanduan gadget kini menjadi salah satu masalah yang cukup banyak ditemui oleh remaja di Indonesia.

Dalam acara diskusi pada Selasa (30/9), Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengatakan dari 68 juta remaja dengan rentang usia 10-24 tahun sebanyak 34 persen di antaranya mengalami kecanduan gadget dan menyebabkan remaja merasa kesepian.

Wihaji juga menyebutkan bahwa satu dari empat remaja mengalami stres hingga mengganggu kesehatan mentalnya karena penggunaan gawai yang mendominasi dalam kegiatan sehari-hari.

Melihat data tersebut, maka intervensi tenaga ahli ataupun profesional dibutuhkan pada remaja yang mengalami kecanduan gadget ketika sudah mengganggu keseharian.

Kasandra menjelaskan beberapa ciri umum dari remaja yang mengalami kecanduan gadget dan membutuhkan pertolongan profesional, salah satunya saat fungsi akademik dan nilai sekolah menurun drastis akibat remaja terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gadget.

Lalu, saat remaja mengalami gangguan emosi dan perilaku misalnya menjadi lebih mudah marah, cemas berlebihan, bahkan panik jika tidak memegang gadget.

Anak remaja yang kecanduan gadget biasanya juga kehilangan minat pada aktivitas lain dan tidak menyukai interaksi langsung dengan keluarga ataupun teman di ruang nyata.

Ciri lainnya yang perlu diwaspadai adalah saat anak mengalami gangguan tidur dan masalah fisik seperti sakit kepala dan nyeri mata akibat terlalu sering terpapar gadget.

"Pada titik ini, psikolog dapat membantu dengan terapi perilaku kognitif (Cognitive Behavioral Therapy /CBT) untuk melatih kontrol diri dan mengganti kebiasaan," kata Kasandra.

Apabila ternyata gejala kecanduan gadget sudah terlalu berat dan melibatkan gangguan emosi yang serius seperti depresi atau kecemasan klinis, maka intervensi psikater dibutuhkan untuk penanganan lebih lanjut termasuk kemungkinan terapi medis bila diperlukan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Megapolitan
Boleh Juga Jalan-jalan ke K...
Daerah
Skabies Menyerang Warga Bin...
Daerah
Antisipasi Banjir, Pemkot D...
Daerah
Gempa Bumi M6.1 Guncang Sum...
Advertisement
Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Telah Terjual Lebih dari 55 Ribu Kursi

Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Telah Terjual Lebih dari 55 Ribu Kursi

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.