Ekonomi Hijau Kian Nyata, 17 Lokasi Karbon Biru Jadi Senjata RI Lawan Krisis Iklim
📅 Kamis, 11 Sep 2025, 17:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Khalis Surry
JAKARTA – Kawasan cadangan karbon biru memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan iklim global sekaligus mendukung ekonomi berkelanjutan.
Ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan rawa asin mampu menyerap serta menyimpan karbon jauh lebih efektif dibanding hutan daratan.
Dengan melindungi dan memperluas kawasan ini, Indonesia tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca, tetapi juga memperkuat ketahanan pesisir dari abrasi dan bencana iklim.
Selain fungsi ekologis, cadangan karbon biru juga menyimpan potensi ekonomi melalui skema perdagangan karbon dan ekowisata berbasis konservasi.
Hal ini membuka peluang bagi masyarakat lokal untuk mendapatkan manfaat langsung, sehingga konservasi tidak hanya bernuansa lingkungan, tetapi juga berimplikasi sosial dan ekonomi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan demikian, kawasan cadangan karbon biru menjadi instrumen strategis bagi Indonesia dalam mewujudkan pembangunan rendah karbon dan menjaga reputasi sebagai negara pemilik salah satu ekosistem pesisir terbesar di dunia.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menyiapkan 17 lokasi indikatif yang akan ditetapkan sebagai kawasan strategis nasional tertentu (KSNT) sebagai cadangan karbon biru.
Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut KKP Kartika Listriana menjelaskan penetapan lokasi ini mencerminkan komitmen nasional dalam mengelola ekosistem karbon biru, melindungi lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Ini akan mempresentasikan kepentingan nasional untuk pengelolaan ekosistem karbon biru,” ujar Kartika dalam Lokakarya Nasional Penataan Ruang Laut di Jakarta, Kamis (11/9).
Ia menambahkan, beberapa lokasi, khususnya di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Timur, akan menjadi prioritas utama untuk pemulihan ekosistem.
Karbon biru adalah istilah untuk karbon yang diserap dan disimpan oleh ekosistem pesisir dan laut. Ekosistem ini, seperti hutan bakau (mangrove), padang lamun (seagrass), dan rawa pasang surut.
Ekosistem ini memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer—bahkan melebihi hutan di daratan. Setidaknya 55 persen karbon global diserap oleh organisme laut dan disimpan dalam jangka panjang, baik di dalam biomassa maupun sedimen.
Kartika melanjutkan pengembangan karbon biru juga akan mencakup kawasan strategis nasional lainnya, seperti aglomerasi kota-kota pesisir seperti Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi), Gerbangkertosusila (Gresik-Bangkalan-Mojokerto-Surabaya-Sidoarjo-Lamongan), dan Kedungsepur (Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, dan Purwodadi).
Tak hanya itu, KKP juga berencana mendorong kawasan situs warisan dunia di Bangka Belitung untuk menjadi carbon free island.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!