Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

DPR Harus Keluar dari Jebakan Lingkaran Transaksional yang Rusak Kepercayaan Publik

📅 Senin, 08 Sep 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Pertaruhan Legitimasi

Sementara itu, Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi mengatakan, enam poin yang disampaikan menjadi pertaruhan legitimasi DPR di mata publik. “Kita perlu menilai secara kritis, apakah langkah langkah itu substantif atau masih bersifat kosmetik,” kata Badiul.

Pembentukan Pansus dan janji audit anggaran DPR menjadi pintu masuk penting, tetapi pengalaman selama ini menunjukkan bahwa badan ad hoc kerap berakhir pada kompromi politik, bukan hasil yang mengikat. Audit anggaran hanya akan bermakna bila dilakukan oleh lembaga independen, bukan sekadar laporan internal.

Soal komitmen pada keterbukaan informasi publik dan partisipasi masyarakat dalam legislasi, dia mengatakan perlu diuji secara nyata, karena praktik yang berlaku masih sangat elitis dan minim akses bagi publik luas.

“Saya berharap DPR membuat dashbord khusus laporan penggunaan anggaran per anggota dewan real time. Walau hanya serupiah uang yang digunakan, itu harus dilaporkan,”tegasnya.

Dia juga mendorong DPR mempercepat RUU prioritas terutama RUU Perampasan Aset, bukan agenda jangka pendek kekuasaan. DPR juga dituntut untuk memperkuat standar etik dan integritas, karena persoalan paling mendasar bukan sekadar biaya atau fasilitas, melainkan krisis kepercayaan akibat perilaku sebagian anggotanya.

“Enam keputusan itu baru sebatas kerangka awal, substansi perubahan akan sangat bergantung pada keberanian DPR untuk benar-benar menempatkan aspirasi rakyat di atas kepentingan politik praktis,” katanya.

Masyarakat dan lembaga penegak hukum seperti KPK perlu terus memantau kinerja DPR, agar komitmen mereka tidak berubah menjadi formalitas belaka. “Rakyat tidak boleh berhenti pada euforia tuntutan, saatnya publik memperlihatkan konsistensi pengawalan agar evaluasi total tidak hanya berhenti sebagai “janji politik”.

Di kesempatan lain, Dosen Magister Ekonomi Terapan, Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan komunikasi politik yang transparan serta kredibel menjadi syarat tercapainya harapan masyarakat untuk merasa terwakili.

“Jika rakyat terus tertipu dengan janji politik, maka mengembalikan kepercayaan semakin sulit,” kata Suhartoko.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Uji Coba Pendaratan Pesawat...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.