Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Seduhan Secangkir Kopi Dieng Hangatkan Pengunjung DCF di Malam yang Dingin Bertiup Angin 

📅 Minggu, 24 Agu 2025, 13:44 WIB | Oleh: Tim Penulis

Kini, batang kopi arabika tumbuh selaras, di sela-sela kebun hortikultura, menjadi alternatif yang menjanjikan berkelanjutan. Di Batur, generasi muda menanam kopi, bukan hanya untuk ekonomi, tapi juga untuk tujuan konservasi. Akar kopi kuat, mencegah erosi lebih baik ketimbang sayur musiman.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, luas tanam kopi di Kabupaten Banjarnegara mencapai sekitar 3.103,83 hektare, hanya sekitar 4,3 persen dari total lahan non-sawah seluas 72.140 hektare. Sementara itu, produksi kopi pada periode itu mencapai sekitar 2.110,86 ton.

Pendataan akademik lain menyebut bahwa kopi robusta ditanam di lahan 1.890 hektare, dengan produksi 865 ton (produktivitas 755 kg/ha), sementara arabika di lahan 553 hektare menghasilkan 201 ton (produktivitas sekitar 805 kg/ha). Ini menunjukkan ada ruang besar untuk ekspansi pertanian kopi dalam rangka meningkatkan volume, sekaligus distribusi ke pasar yang lebih luas.

Permintaan kopi Dieng terus meningkat, namun produksi justru turun drastis tahun ini. Perubahan iklim menjadi penyebab utama. Bulan Agustus yang biasanya kering, justru masih diguyur hujan. Saat bunga kopi sedang mekar, hujan deras membuatnya rontok.

Akibatnya, hasil panen anjlok. Jika pada 2024 mitra petani bisa memproses hingga 50 ton arabika dalam satu musim, tahun ini hanya sekitar 10–15 ton. Penurunan hampir 70 persen itu tentu membuat pelaku kopi bekerja lebih keras.

Untuk saat ini, orientasi kopi Banjarnegara masih pasar domestik. Pasar terbesar ada di Purwokerto, yang menyerap banyak kopi untuk kebutuhan kafe-kafe. Di Purwokerto, pasar lebih heterogen karena ada kampus dan komunitas. Kalau di Banjarnegara masih homogen.

Meski beberapa pelaku sudah mencoba menjual ke Jakarta atau kota besar lain, skala masif belum bisa dilakukan. Produksi terbatas membuat suplai tidak stabil, sementara untuk menembus pasar ekspor dibutuhkan konsistensi volume.

DCF bukan hanya pentas seni dan budaya. Festival ini juga panggung ekonomi kreatif. Pada DCF 2025, kehadiran BI mendorong UMKM lokal untuk menjangkau pasar internasional, bahkan di era digital ini melalui QRIS. Pada gelaran sebelumnya, festival mencatat ekonomi bergerak sekitar Rp50 miliar dalam tiga hari.

Bagi pelaku kopi, DCF menjadi momentum memperlihatkan bahwa kopi Dieng lebih dari sekadar minuman, melainkan identitas dan harapan yang dituangkan dalam satu cangkir.

Cerita penikmat

Bagi Lilik, seorang penikmat kopi asal Purwokerto, setiap festival adalah kesempatan menemukan rasa baru. Ia mengaku sudah sering membeli kopi Kailasa, salah satu daerah di Dataran Tinggi Dieng, tapi malam ini ada seduhan yang terasa berbeda. Ada rasa cokelat yang lembut sekali.

Penikmat kopi lainnya, Raka, mengatakan kopi bukan sekadar minuman pada malam hari. “Kalau malam-malam begini, kopi itu bukan sekadar minuman. Dia menjadi teman ngobrol, penghangat, dan menjadi alasan untuk berhenti sejenak, menikmati suasana,” ujar pengunjung asal Jakarta itu.

Testimoni semacam itu yang membuat para pegiat kopi semakin yakin, bahwa kopi Dieng bukan sekadar tren sesaat. Ada kualitas yang benar-benar bisa dibanggakan, meskipun tantangan tetap besar.

Di tengah kabut yang semakin tebal, secangkir kopi Dieng menjadi oase hangat. Ia merepresentasikan upaya menjaga tanah, membangun solidaritas lintas generasi, dan merajut budaya serta ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
Luar Negeri
Pilu Penderitaan Warga Suda...
Daerah
Wali Kota Bandung Buka Turn...
Advertisement
Marco Bezzecchi Juara MotoGP Indonesia 2026, Tradisi Unik Mandalika Berlanjut

Marco Bezzecchi Juara MotoGP Indonesia 2026, Tradisi Unik Mandalika Berlanjut

11 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.