Kayan Mentarang, Rimba Tropis nan Asri di Jantung Borneo
📅 Jumat, 15 Agu 2025, 07:19 WIB | Oleh: Haryo BronoPegunungan yang berada di bagian tengah dan utara kawasan merupakan sumber air untuk Sungai Mentarang dan Sungai Tubu dimana keduanya merupakan anak sungai dari Sungai Sesayap. Anak sungai utama dari Sungai Sembakung mengalir dari bagian utara kawasan taman nasional ini.
Di kawasan TNKM tidak terdapat stasiun pengukuran aliran sungai, tetapi aliran permukaan secara musiman dapat diukur melalui alat ukur yang terdapat di bagian hilir. Volume aliran dan tinggi air sungai naik dan turun dengan cepat tergantung dari tingkat kekeringan dan curah hujan yang terjadi pada bagian hulu sungai di kawasan.
Semua sungai memiliki jeram-jeram yang beberapa diantaranya tidak dapat dilalui oleh perahu tempel selama periode air tinggi. Sementara pada saat air rendah juga dapat mengganggu perjalanan melalui sungai. Banjir bandang di aliran sungai-sungai itu kerap terjadi.
Yang menarik dari kawasan TNKM adalah adanya sumber air asin yang menopang kehidupan masyarakat pedalaman sejak dahulu kala. Disebut “Sungan” sumber air itu adalah bagian terpenting dari bentuk wilayah geomorfologi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di daerah Krayan, terdapat salah satu jenis sumber air asin yang masih digunakan untuk pembuatan garam dan merupakan bagian penting dalam perdagangan masyarakat adat setempat yang sudah ada paling tidak sekitar 200 tahun lalu.
Pada bagian lain, ada pula sumber air asin yang tidak dapat diolah menjadi garam. Selain dibutuhkan oleh masyarakat, sumber air asin menjadi tempat minum binatang seperti babi hutan, rusa, kancil, kijang dan beberapa jenis burung atau satwa lainnya.
Pesona Alam
Sebaiknya Anda baca juga:
Kawasan TNKM saat ini terbagi menjadi tiga wilayah pengelolaan, yaitu Seksi Wilayah Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I, SPTN II, dan SPTN III. Dari tiga wilayah ini setidaknya ada 20 daya tarik wisata alam dan 10 daya tarik wisata budaya di Taman Nasional Kayan Mentarang.
Salah satu yang terkenal dari SPTN wilayah II tepatnya di Desa Apau Ping adalah Padang Rumput Long Tua. Di sana, lo bisa melihat kehadiran banteng yang hampir punah, langsung di habitat aslinya. Selain itu, di Padang Rumput Long Tua juga dijumpai kijang, rusa, bekantan, hingga burung enggang.
Pengelolaan secara kolaboratif ternyata cukup efektif dalam upaya pelestarian kekayaan alam yang ada di TNKM. Semoga kawasan ini tetap lestari serta tetap menjadi jantung Borneo dan paru-paru dunia sepanjang masa.
Perjalanan ke TNKM sangat menantang, dimulai dari Tarakan atau Bandara Long Ampung di Malinau. Dari Tarakan perjalanan dilanjutkan melalui sungai dengan speed boat atau kapal klotok melalui Sungai Mentarang. Perjalanan memakan waktu sekitar 6 jam, tergantung kondisi cuaca dan air sungai.
Sedangkan via Long Ampung, perjalanan dilanjutkan dengan perahu menuju Data Dian selama kira-kira 5 jam. Namun ada kemungkinan akses melalui perbatasan, yaitu lewat Ba’kelalan (Sarawak, Malaysia) di bawah program Heart of Borneo. hay
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!