RI-Tiongkok Kerja Sama Riset Kelautan di Zona Subduksi
📅 Rabu, 13 Agu 2025, 01:00 WIB | Oleh: Eko S
Doc: istimewa
JAKARTA - Sejumlah peneliti dari Indonesia dan Tiongkok pada baru-baru ini memulai pelayaran untuk survei laut dalam di zona subduksi lempeng di selatan Indonesia, khususnya di wilayah Selatan Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang berlangsung hingga 26 Agustus 2025.
Kolaborasi penelitian ini melibatkan pihak dari Tiongkok yakni Second Institute of Oceanography di Kementerian Sumber Daya Alam Tiongkok, dan South China Sea Institute of Oceanology di Akademi Sains China (SCSIO).
Seperti dikutip dari Antara, pihak Indonesia di antaranya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan tiga perguruan tinggi, yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Para peneliti memulai pelayaran dari Pelabuhan Tanjung Priok, dan akan berlangsung selama lebih dari dua pekan menggunakan kapal riset Tan Kah Kee milik Xiamen University.
Penelitian ini bertujuan memahami proses tumbukan antara lempeng Jawa dan lempeng Australia, serta implikasinya terhadap potensi gempa bumi dan tsunami di kawasan tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kerja sama ini tidak hanya akan meningkatkan kapasitas penelitian di bidang kelautan, tetapi juga menjadi jembatan penting dalam transfer teknologi dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia Indonesia," kata Direktur Kemitraan dan Relasi Global UGM, Puji Astuti dikutip dari keterangan resmi UGM pada Selasa (12/8).
Lebih lanjut, ITB menyebut penelitian ini juga akan membantu menyediakan data dan informasi yang akurat terkait keanekaragaman hayati dan sumber daya geologi perairan Indonesia.
Hal ini penting dalam pengambilan kebijakan untuk eksplorasi dan pemanfaatannya secara berkelanjutan dalam rangka menunjang prioritas nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain mitigasi bencana, penelitian ini juga diharapkan dapat membuka wawasan baru tentang potensi sumber daya kelautan dan keanekaragaman hayati di wilayah tersebut. Proyek ini menunjukkan komitmen kedua negara untuk bekerja sama dalam menghadapi tantangan ilmiah yang kompleks demi kepentingan bersama.
Antisipasi Tsunami
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga tengah melakukan ekspedisi maritim guna mempelajari tumbukan lempeng Australia–Jawa dan dampaknya terhadap potensi bencana geologi, seperti gempa bumi dan tsunami, demi mengantisipasi bencana tersebut di masa mendatang.
Ekspedisi bertajuk Collision Process Between the Java and Australia and Its Impacts on Geohazard tersebut dilakukan atas kerja sama BRIN dengan SIO dan UGM.
"Ekspedisi geosains ini penting untuk memitigasi dan mengurangi risiko dari potensi bencana alam, khususnya yang datang dari laut, seperti yang terjadi saat serangan tsunami besar yang pernah melanda Aceh," kata Kepala BRIN Laksana Tri Handoko di Jakarta, Selasa.
Handoko menjelaskan ekspedisi ini akan meriset wilayah di selatan Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berada di dekat palung terdalam Samudra Hindia (sekitar 7.200 meter) dengan aktivitas tektonik yang sangat tinggi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!