Jonet Perkuat Komunikasi dan Peringatan Dini Bencana di Yogyakarta
📅 Kamis, 01 Okt 2026, 18:45 WIB | Oleh: Eko SYOGYAKARTA – Pemerintah Kota Yogyakarta memperkuat jaringan komunikasi kebencanaan dengan mengintegrasikan berbagai saluran informasi melalui Jogja Connect (Jonet). Sistem tersebut diluncurkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta bertepatan dengan apel siaga Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Kantor Kemantren Kotagede, Kamis (1/10/2026).
Jonet dirancang untuk menghubungkan berbagai kanal komunikasi, baik berbasis digital maupun manual, guna mempercepat penyampaian informasi peringatan dini serta koordinasi data ketika terjadi bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, mengatakan rangkaian Bulan PRB diarahkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan daerah. Selain apel siaga dan peluncuran Jonet, kegiatan tersebut mencakup review Kampung Tangguh Bencana (KTB), koordinasi Forum KTB Kota Yogyakarta, pelatihan mitigasi, simulasi komunikasi EWS banjir, serta simulasi SAR gabungan bersama organisasi perangkat daerah terkait.
“Dalam kegiatan PRB sejatinya diisi terkait dengan edukasi kebencanaan dan kesiapsiagaan. Jadi Jonet itu kita bagaimana memberikan suatu muatan pemahaman kebencanaan, edukasi kebencanaan termasuk peringatan dini, melalui berbagai sumber jaringan komunikasi,” kata Nur Hidayat usai apel siaga peringatan Bulan PRB tahun 2026.
Dalam Jonet terdapat sejumlah sistem dan kegiatan, antara lain Sistem Integrasi Alat Komunikasi Penanggulangan Bencana di Wilayah (Sigapil), podcast Jonet, integrasi IP paging Pemkot Yogyakarta dengan komunikasi kegempaan BPBD Kota Yogyakarta, serta simulasi EWS serentak.
Integrasi tersebut difokuskan antara lain pada penggunaan radio rig melalui Sigapil di wilayah kemantren. Setelah apel siaga, BPBD Kota Yogyakarta melakukan komunikasi radio rig dengan jaringan radio rig di Kemantren Kotagede sebagai bagian dari penguatan konektivitas komunikasi kebencanaan.
“Kita net (berkomunikasi lewat radio rig) setiap jam sembilan pagi sampai sembilan malam. Radio rig di setiap kemantren bisa kita gunakan komunikasi secara langsung ke pemberdayaan Linmas dan relawan serta mencakup seluruh lapisan masyarakat. Jadi segala informasi kebencanaan bisa tersampaikan ke lapisan individu masyarakat. Termasuk berbagai jaringan komunikasi antar OPD Pemkot Yogyakarta kita beri muatan edukasi bencana dan peringatan dini bencana. Intinya bagaimana Jonet itu membangun konektivitas secara terintegrasi,” terangnya.
Selain mengandalkan teknologi komunikasi, BPBD Kota Yogyakarta juga mendorong pemanfaatan kembali kentongan sebagai sistem peringatan dini sederhana. Dalam apel tersebut, peserta melakukan simulasi pemukulan kentongan dengan sejumlah pola yang memiliki makna peringatan berbeda.
Nur menjelaskan, kentongan dapat menjadi alternatif ketika sarana komunikasi modern tidak dapat digunakan, misalnya saat jaringan listrik dan radio mengalami gangguan akibat bencana. Menurutnya, keberadaan kentongan di sejumlah pos ronda perlu kembali dioptimalkan sebagai bagian dari kesiapsiagaan masyarakat.
"Ya, saya kira kenthongan di setiap masyarakat punya sendiri. Sudah ada seperti pos ronda-ronda juga ada semua. Kita ingin mengoptimalkan pemanfaatan kentongan itu secara baik dan membudayakan itu karena itu yang dekat dengan masyarakat dan simpel,” tambah Nur.
Peserta apel siaga dari KTB Sindurejan, Kelurahan Patangpuluhan, Antok, menyambut baik penguatan sistem komunikasi kebencanaan tersebut. Ia juga mendukung rencana mengaktifkan kembali kentongan sebagai alat peringatan dini di lingkungan masyarakat.
Antok mengatakan penggunaan kentongan dalam kegiatan ronda kini semakin jarang. Karena itu, menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan pemahaman mengenai pola pukulan kentongan beserta arti masing-masing tanda agar dapat digunakan secara tepat ketika terjadi keadaan darurat.
"Kalau kentongan, karena setiap pos ronda kita juga sudah ada tanda-tanda(jenis) pukulannya. Monggo kalau mau diaktifkan lagi bagus juga karena ketika nanti ada bencana, semua fasilitas mati dengan tanda-tanda kentongan bisa mungkin bisa dihidupkan kembali,” pungkas Antok.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!