RI-Tiongkok Percepat IDC-CEPA, Persaingan Dagang Makin Sengit
📅 Rabu, 30 Sep 2026, 19:30 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Indonesia dan Tiongkok sepakat mempercepat persiapan perundingan Indonesia-Tiongkok Comprehensive Economic Partnership Agreement (IDC-CEPA) untuk memperluas akses pasar dan memperkuat kerja sama ekonomi kedua negara.
Kesepakatan tersebut menjadi salah satu hasil pertemuan bilateral antara Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Edi Prio Pambudi dan Direktur Jenderal Perdagangan Internasional dan Urusan Ekonomi Kementerian Perdagangan Tiongkok (MOFCOM) Chen Chao di Kantor MOFCOM, Beijing.
Edi mengatakan CEPA diharapkan dapat memperkuat hubungan ekonomi kedua negara dengan mengedepankan kerja sama yang saling melengkapi.
“Saat ini merupakan momentum yang tepat bagi Indonesia dan Tiongkok untuk memperkuat hubungan ekonomi melalui CEPA. Kami ingin CEPA mengedepankan kerja sama yang saling melengkapi, bukan saling bersaing, sehingga manfaatnya dirasakan kedua belah pihak,” kata Edi dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (30/9).
Ia memaparkan Tiongkok merupakan tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia.
Sepanjang 2025, nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok mencapai 64,82 miliar dolar AS, atau meningkat 7,11 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di sisi investasi, Tiongkok dan Hong Kong juga masuk dalam tiga besar negara asal penanaman modal asing (PMA) di Indonesia pada 2025, dengan realisasi masing-masing sebesar 7,5 miliar dolar AS dan 10,6 miliar dolar AS.
Meski memiliki hubungan perdagangan dan investasi yang kuat, Indonesia dan Tiongkok belum memiliki perjanjian perdagangan bilateral.
Selama ini, kerja sama perdagangan kedua negara berlangsung dalam kerangka ASEAN-Tiongkok Free Trade Area (ACFTA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Pihak Tiongkok menyambut baik ajakan tersebut. Chen Chao optimistis CEPA akan membawa manfaat bagi pelaku usaha di kedua negara.
Selanjutnya, kedua pihak akan bersama-sama memetakan cakupan kerja sama yang akan dituangkan dalam perjanjian tersebut.
“Kami akan segera berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk menindaklanjuti hasil pertemuan ini. Kami juga akan melibatkan kamar dagang dan asosiasi usaha agar CEPA benar-benar menjawab kebutuhan dunia usaha,” ungkap Deputi Edi.
Selain pembahasan CEPA, Indonesia dan Tiongkok turut membahas pengembangan ekonomi hijau melalui Green Partnership Agreement for Development (GPAD), sebuah inisiatif Tiongkok untuk memperkuat perdagangan dan investasi hijau, terutama bagi negara-negara berkembang.
“Bagi kami, implementasi adalah yang utama. Kerja sama ekonomi hijau tidak boleh berhenti di atas kertas, tetapi harus bisa dijalankan dan memberi nilai tambah,” ujar dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!