Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Andalkan Ekonomi Ekstraktif, Kualitas Ketenagakerjaan RI Rendah

📅 Selasa, 12 Agu 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Angka tersebut kata Hafidz, bukan sekedar pendekatan data makro untuk melihat dinamika ekonomi dan ketenagakerjaan, tetapi sebagai acuan pengelolaan dinamika ketenagakerjaan di ranah praksis. Tentu banyak orang bekerja yang masih jauh penghasilannya dari layaknya meski bekerja lebih dari 36 jam seminggu.

Andalkan Pertambangan

Faktor rendahnya kualitas ketenagakerjaan di Indonesia, tidak lain karena pengaruh ekonomi yang bersifat ekstraktif dengan mengandalkan percepatan pembangunan berbasis pertambangan mineral dan batubara, hal ini bisa diamati dengan jelas di beberapa zona pertumbuhan seperti Sulawesi dan Maluku, agregat pertumbuhan ekonominya tinggi tetapi serapan tenaga kerjanya relatif stagnan.

Artinya, meski menyerap tenaga kerja cukup besar tetapi project investasi ekstraktif masih minim multiplier effect-nya ke ekonomi sekitar.

Belakangan, pehatian juga harus diberikan pada sektor primer, terutama di kalangan petani dan nelayan yang terdampak perubahan iklim, kedua sektor ini semakin tidak produktif dan konsentrasi pekerja yang masih tinggi melahirkan penurunan kualitas kesejahteraan.

Perbaikan daya beli petani dan nelayan akan mendorong partisipasi yang efektif dan pada akhirnya mencegah urbanisasi ke kota yang menimbulkan dampak pengangguran yang lebih luas di perkotaan. Selain itu, pertumbuhan ekonomi petani dan nelayan juga bisa diharapkan jadi motor ekonomi baru yang mendorong pertumbuhan jasa-jasa di desa, perdagangan khususnya bisa meningkat dan dampaknya industri akan optimis untuk tumbuh.

“Jadi mengatasi ketenagakerjaan, perlu mempertimbangkan skenario yang komprehensif sebagaimana yang dilakukan Vietnam dan Tiongkok, gencarnya industrialisasi dan jasa tidak mengabaikan produktifitas sektor primer,”ungkap Hafidz.

Untuk sektor manufaktur, dia mengatakan ketatnya persaingan dan efisiensi tenaga kerja dengan otomatisasi tak tehindarkan, namun perlu disikapi secara optimis, bahwa otomatisasi akan membutuhkan dukungan supply chains yang lebih berkualitas sehingga akan membuka banyak kesempatan usaha baru. Asalkan pemerintah serius mendorong perputaran ekonomi riil di masyarakat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
  • Profil Empat Nama Pemain Tambahan Timnas yang Akan Direkrut untuk Piala Asia 2027
    Timnas bakal lebih tajam dengan tambahan pemain ini ...
  • Industri Tekstil RI Kalah Canggih dari China, Menperin Sarmuji Bongkar Biang Keroknya
    Langkah Kemenperin memprioritaskan restrukturisasi mesin yang telah berusia ...
  • Pasar Makin Prospektif, Kemenperin Pacu Industri Mainan Tembus Pasar Global
    Pencapaian ekspor mainan yang menembus USD 351,8 juta ...
  • Industri Mesin Diperkuat, Indonesia Tak Mau Terus Bergantung Impor
    Langkah strategis Ditjen ILMATE Kemenperin yang disampaikan oleh ...
Olahraga
Alcaraz Merasa Segar Secara...
Nasional
Menakar Ruang Kebijakan di ...
Advertisement
Fenomena Tikungan ke-13 Mandalika: Antara Mitos Atau Sekadar Medan Balap yang Sulit?

Fenomena Tikungan ke-13 Mandalika: Antara Mitos Atau Sekadar Medan Balap yang Sulit?

08 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.