Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Shadow AI Mengancam Keamanan Perusahaan, Akamai Temukan Kesenjangan Visibilitas

2 Kamis, 06 Agu 2026, 19:20 WIB | Oleh:
Shadow AI Mengancam Keamanan Perusahaan, Akamai Temukan Kesenjangan Visibilitas Shadow AI Mengancam Keamanan Perusahaan, Akamai Temukan Kesenjangan Visibilitas Doc: Akamai
Ket. Ilustrasi penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh karyawan. Riset Akamai mengungkap hampir separuh penggunaan AI di perusahaan luput dari pengawasan keamanan, memperbesar risiko shadow AI dan serangan siber baru.

JAKARTA — Adopsi kecerdasan artifisial (AI) di lingkungan perusahaan berkembang semakin cepat. Namun, pertumbuhan tersebut juga memunculkan persoalan baru di sisi keamanan siber. Laporan terbaru Akamai mengungkapkan bahwa hampir separuh aktivitas penggunaan AI di perusahaan berlangsung di luar pengawasan tim keamanan, memperlebar kesenjangan visibilitas terhadap fenomena yang dikenal sebagai shadow AI.

Temuan tersebut tertuang dalam laporan State of the Internet (SOTI): The Enterprise AI Usage Risk Report 2026. Laporan ini menyoroti perubahan lanskap ancaman ketika AI tidak lagi sekadar digunakan sebagai alat bantu produktivitas, tetapi mulai berperan sebagai bagian dari aktivitas kerja sehari-hari dan bahkan agen yang dapat menjalankan tindakan secara otonom.

Menurut Akamai, percepatan adopsi AI membuat mekanisme keamanan yang selama ini digunakan perusahaan menghadapi tantangan baru. Data perusahaan kini tidak hanya berpindah melalui email, sistem penyimpanan, atau transfer file, tetapi juga dapat tersebar melalui jutaan prompt, akun AI pribadi yang tidak dikelola perusahaan, serta agen AI yang memiliki kemampuan menjalankan tugas atas nama pengguna.

“AI kini bukan lagi sekadar alat untuk meningkatkan produktivitas, melainkan telah menjadi rekan kerja yang memiliki akses langsung ke aset-aset paling berharga perusahaan,” ujar Or Eshed, Vice President, Enterprise Security Product and Engineering Akamai melalui keterangannya pada hari Kamis (6/8).

Ia mengatakan, sistem pencegahan kebocoran data konvensional pada dasarnya dirancang untuk menghadapi pola perpindahan data melalui file dan email. Sementara itu, lingkungan AI menghadirkan pola interaksi yang jauh lebih dinamis.

“Data sensitif perusahaan tersebar secara sistematis melalui jutaan prompt yang terus berubah, akun pribadi yang tidak dikelola, serta agen AI otonom,” katanya.

Karena itu, menurut Eshed, perusahaan perlu mengubah pendekatan keamanan. Fokusnya bukan lagi sekadar memblokir penggunaan AI, melainkan mengelola bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam setiap interaksi.

Risiko terkonsentrasi pada pengguna AI aktif

Akamai menemukan bahwa penggunaan AI telah menyebar ke berbagai fungsi bisnis. Namun, paparan risikonya tidak tersebar secara merata di seluruh organisasi.

Sebagian besar interaksi AI justru berasal dari kelompok kecil pengguna yang sangat aktif. Kelompok yang disebut sebagai advanced AI users ini menjadi pendorong utama sebagian besar aktivitas dan potensi paparan risiko AI di lingkungan perusahaan.

Kondisi tersebut memberikan tantangan sekaligus peluang bagi tim keamanan. Alih-alih memperlakukan seluruh karyawan dengan tingkat risiko yang sama, perusahaan dapat memprioritaskan pemantauan terhadap kelompok pengguna yang menghasilkan volume interaksi AI paling tinggi.

Akamai merekomendasikan perusahaan mengarahkan telemetri, pemantauan, serta edukasi keamanan secara lebih terfokus kepada sekitar 5 persen karyawan berisiko tinggi yang menghasilkan sebagian besar interaksi melalui prompt AI.

Shadow AI memperlebar kesenjangan visibilitas

Persoalan lain yang disoroti adalah berkembangnya shadow AI, yakni penggunaan berbagai layanan AI oleh karyawan tanpa pengelolaan atau persetujuan resmi dari perusahaan.

Tim keamanan umumnya lebih mudah memantau platform AI yang telah disetujui dan dikelola perusahaan. Namun, di luar platform tersebut terdapat long tail berupa berbagai aplikasi dan layanan AI yang digunakan secara mandiri oleh karyawan.

Fenomena ini membuat perusahaan dapat kehilangan visibilitas terhadap data apa yang dimasukkan ke dalam layanan AI, siapa yang mengaksesnya, serta bagaimana data tersebut diproses atau disimpan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
Advertisement
Warga Asli Minang Itu Menjadi Orang Nomor Satu di Kota Mississauda, Kanada   

Warga Asli Minang Itu Menjadi Orang Nomor Satu di Kota Mississauda, Kanada  

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.