Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Andalkan Ekonomi Ekstraktif, Kualitas Ketenagakerjaan RI Rendah

📅 Selasa, 12 Agu 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Andalkan Ekonomi Ekstraktif, Kualitas Ketenagakerjaan RI Rendah Doc: antara
Ket. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporannya beberapa waktu lalu menyebutkan angka pengangguran di Indonesia pada April 2024 merupakan yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN.

JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporannya beberapa waktu lalu menyebutkan angka pengangguran di Indonesia pada April 2024 merupakan yang tertinggi di antara negara-negara ASEAN. Angka pengangguran RI pada April tahun lalu itu 5,2 persen dari total penduduk 279,96 juta jiwa. 

Setelah Indonesia baru Filipina dengan angka pengangguran 5,1 persen dari 114,16 juta jiwa penduduk. Tempat ketiga ditempati Malaysia dengan angka pengangguran 3,5 persen dari 33,46 juta jiwa penduduknya.

Menanggapi kondisi seperti itu, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (API) DIY, Tim Aprianto, menilai tingginya tingkat pengangguran di Indonesia saat ini tidak lepas dari dua faktor utama yaitu, deindustrialisasi dan ketidaksinambungan kebijakan antar pemerintahan.

Tren ini kata Tim telah terbentuk dalam jangka panjang, seiring penurunan kontribusi industri manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) yang terus terjadi sejak satu dekade terakhir.

“Kontribusi industri manufaktur yang dulu mencapai 23,5 persen kini tinggal 18,47 persen, dan tahun ini saya khawatir kembali menurun. Dampak dari deindustrialisasi itu pasti pengangguran,” kata Tim di Yogyakarta, Senin (11/8).

Menurut Tim, fenomena ini diperparah oleh lemahnya kesinambungan kebijakan pembangunan sumber daya manusia (SDM) antar rezim pemerintahan. Ia menyoroti bahwa selama sepuluh tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo, fokus diarahkan pada revitalisasi pendidikan dan keterampilan vokasi. Namun, program tersebut tidak dilanjutkan secara konsisten oleh pemerintahan saat ini.

“Tiba-tiba sekarang bergeser ke sekolah rakyat dan program makan bergizi gratis, tanpa kesinambungan dengan agenda vokasi,” katanya.

Tim menilai kebijakan vokasi semestinya mendapat prioritas karena menjadi kunci peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui upskilling dan reskilling. “Di era pasar bebas, kunci bertahan adalah efisiensi, produktivitas, dan daya saing. Kalau tidak, pengangguran akan membesar karena tenaga kerja digantikan otomasi, kecerdasan buatan, atau tenaga kerja asing,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pengangguran memiliki korelasi erat dengan kemiskinan dan kriminalitas. “Kemiskinan sangat dekat dengan pendidikan dan pengangguran, dan ujung-ujungnya bisa memicu kriminalitas,” katanya.

Masa Panen Raya

Pemerhati masalah kemiskinan dari Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi mengatakan, penilaian IMF bahwa tingkat pengangguran di Indonesia akan mencapai 5 persen atau menempati posisi tertinggi di ASEAN sebenarnya wajar saja, karena data BPS Mei lalu juga meirilis data yang mengindikasikan angka pengangguran terbuka 4,76 persen meski dengan nada optimis turun 0,06 persen dari tahun sebelumnya.

“Yang perlu dipahami adalah konsep pengangguran terbuka iniberdasarkan definisi survei ketenagakerjaan yaitu penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak sama sekali dalam seminggu dan aktif mencari kerja, angkanya mencapai 4,76 persen pada Februari 2025,” kata Hafidz.

Dia menjelaskan, untuk memahami dinamika ketenagakerjaan, juga perlu memberi perhatian tinggi pada angka setengah pengangguran atau penduduk 15 tahun ke atas yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu, bukan karena keinginannya dan masih aktif mencari pekerjaan lainnya, angkanya mencapai 8 persen. Sekali lagi BPS menunjukan optimisme bahwa angka ini membaik dari tahun sebelumnya yang mencapai 8,52 persen.

“Kita akan melihat pada bulan agustus nanti, biasanya angkanya lebih rendah dikarenakan tibanya masa panen raya di sebagian daerah, serta banyaknya operasional pekerjaan pemerintah dan swasta yang sudah berjalan sehingga bisa menyerap lebih banyak pekerja, tetapi dengan melihat efisiensi yang diberlakukan bisa jadi angkanya justru turun,”papar Hafidz.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
  • Profil Empat Nama Pemain Tambahan Timnas yang Akan Direkrut untuk Piala Asia 2027
    Timnas bakal lebih tajam dengan tambahan pemain ini ...
  • Industri Tekstil RI Kalah Canggih dari China, Menperin Sarmuji Bongkar Biang Keroknya
    Langkah Kemenperin memprioritaskan restrukturisasi mesin yang telah berusia ...
  • Pasar Makin Prospektif, Kemenperin Pacu Industri Mainan Tembus Pasar Global
    Pencapaian ekspor mainan yang menembus USD 351,8 juta ...
  • Industri Mesin Diperkuat, Indonesia Tak Mau Terus Bergantung Impor
    Langkah strategis Ditjen ILMATE Kemenperin yang disampaikan oleh ...
Olahraga
Alcaraz Merasa Segar Secara...
Nasional
Menakar Ruang Kebijakan di ...
Advertisement
Fenomena Tikungan ke-13 Mandalika: Antara Mitos Atau Sekadar Medan Balap yang Sulit?

Fenomena Tikungan ke-13 Mandalika: Antara Mitos Atau Sekadar Medan Balap yang Sulit?

08 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.