Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Yang Viral yang Berkuasa: Politik Kini Ditentukan oleh Algoritme, Bukan Kebijakan Substantif

📅 Minggu, 06 Jul 2025, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Yang Viral yang Berkuasa: Politik Kini Ditentukan oleh Algoritme, Bukan Kebijakan Substantif Doc: The Conversation
Ket. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sedang menyapa masyarakat setelah pertandingan bola Persib.

Ilyas Akbar Almadani, Universitas Gadjah Mada

Di era ketika jempol lebih menentukan daripada parlemen, kekuasaan politik kini tak lagi bersandar pada institusi, konstitusi, ataupun kebijakan rasional, melainkan dalam bentuk algoritme, viralitas, dan resonansi emosional.

Hal ini menimbulkan berbagai macam objek studi yang belum mendapat tempat “resmi” dalam penelitian sosiologi dan politik. Dari fenomena ini saya mencetuskan istilah sebut sebagai “Power Morph” (pergeseran kuasa digital), yaitu transformasi bentuk kekuasaan, dari struktur formal menuju jaringan afektif, yang dibentuk dan disebarluaskan oleh teknologi digital.

Istilah ini saya usulkan sendiri sebagai sintetis dari sebuah teori mengenai afektivitas politik dan algoritmisasi pengaruh publik.

Dalam ekosistem Power Morph, kekuasaan tidak lagi lahir dari struktur dan institusi, melainkan dari kemampuan membentuk resonansi (gema) emosional.

Dampak dari Power Morph terhadap kualitas pemerintahan adalah dapat mengaburkan kejernihan opini publik dan mengganggu sistem penegakan hukum.

Terlebih, aturan hukum kita saat ini belum didesain untuk menghadapi dinamika berbasis algoritme. Dalam jangka panjang, ini bisa menyebabkan krisis demokrasi.

Maka dari itu, pemerintah perlu mendesain ulang tata kelola demokrasi digital yang lebih adaptif dan etis.

Dari kebenaran ke resonansi

Kita hidup di zaman ketika kebenaran tidak lagi ditentukan oleh argumen, data, atau prosedur hukum, melainkan oleh jumlah likes, retweet, view, dan fitur interaksi lain di media sosial.

Kekuatan tidak lagi bersumber dari bukti ilmiah, melainkan dari pengaruh emosional sebuah pesan.

Contohnya adalah figur politik seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, atau Dedi Mulyadi, yang viral bukan karena programnya, melainkan karena cuplikan-cuplikan naratif emosional mereka di media sosial masing-masing. Ini termasuk pidato penuh simpati, blusukan dramatis, hingga momen tangis mengharukan.

Dalam konteks global, contohnya adalah Donald Trump, yang juga menunjukkan bagaimana resonansi emosional bisa mengalahkan validitas data.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
Nasional
SKK Migas Umumkan Kurangi E...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Membanggakan! Dua Perempuan Indonesia Jadi Juara Dunia Kewirausahaan Sosial, Apa Rahasia Mereka?

Membanggakan! Dua Perempuan Indonesia Jadi Juara Dunia Kewirausahaan Sosial, Apa Rahasia Mereka?

24 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.