Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Yang Viral yang Berkuasa: Politik Kini Ditentukan oleh Algoritme, Bukan Kebijakan Substantif

📅 Minggu, 06 Jul 2025, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis

Contohnya dapat ditemukan dalam berbagai kasus ketika konten aktivisme atau kritik terhadap pemerintah mendadak “hilang” dari linimasa atau sulit ditemukan, sementara konten lain yang mendukung narasi dominan justru naik ke permukaan.

Affective simulation: Kekuasaan sebagai pertunjukan emosi

Istilah affective simulation merujuk pada praktik memproduksi emosi melalui performa digital—menggunakan ekspresi, narasi, musik, dan visual untuk menciptakan resonansi.

Gagasan ini berakar dari teori simulasi Jean Baudrillard dan diperkuat oleh konsep affective publics dari Zizi Papacharissi.

Politikus yang tidak cukup punya program, biasanya membuat dirinya harus terlihat peduli dan empatik sehingga dapat mengundang simpati publik. Sosiolog Paolo Gerbaudo menyebut politikus digital ini sebagai choreographers of affects yang mengatur suasana, bukan ideologi.

Dedi Mulyadi, contohnya, dalam video pendeknya di YouTube kerap tampil bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai sosok yang dekat dan emosional.

Kekuasaan kini bukan lagi dominasi fisik, tetapi kendali atas mood publik.

Urgensi kesadaran naratif

Fenomena Power Morph seharusnya memantik kesadaran kita bahwa dunia sudah tidak lagi dikendalikan oleh ruang sidang atau lembaga formal, melainkan oleh ruang digital.

Kita tidak bisa melawan kekuasaan digital ini hanya dengan menyebar data atau membantah hoaks. Kita harus mampu mengenali simulasi, membaca narasi palsu, dan memahami logika emosi kolektif.

Kita membutuhkan kesadaran naratif bahwa setiap video, meme, atau potongan teks adalah bagian dari perebutan makna sosial. Perlawanan terhadap kekuasaan yang bersifat afektif harus dimulai dari kepekaan, bukan sekadar informasi.

Jika kita ingin menyelamatkan demokrasi, kita harus membangun ulang struktur kekuasaan, dari yang semata prosedural, menjadi yang juga afektif, naratif, dan etis.

Kekuasaan digital tidak akan hilang, namun kita bisa menjinakkannya jika kita mampu memahami bagaimana ia bekerja. Tugas kita bukan sekadar membantah hoaks atau memperkuat data, tetapi membangun ekosistem afektif yang sehat, di mana emosi tidak dimanipulasi, dan algoritme tidak mengatur nurani.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Daerah
Air Baku PDAM Bangka Tengah...
Advertisement
Hasil UEFA Nations League: Inggris Catatkan Kemenangan Terbesar Pertama Usai Hancurkan Kroasia 7-0

Hasil UEFA Nations League: Inggris Catatkan Kemenangan Terbesar Pertama Usai Hancurkan Kroasia 7-0

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.