Sinner Pimpin Era Keemasan Tenis Italia
📅 Rabu, 07 Mei 2025, 09:25 WIB | Oleh: Benny Mudesta Putra
Doc: AFP
ROMA – Jannik Sinner akan menjadi magnet utama di Roma Open pekan ini saat petenis nomor satu dunia itu kembali ke lapangan, namun absennya selama tiga bulan akibat larangan doping justru membuka jalan bagi bintang-bintang muda Italia lainnya untuk bersinar.
Senin lalu, Sinner ditemani rekan senegaranya Lorenzo Musetti di jajaran 10 besar peringkat ATP. Musetti naik ke peringkat sembilan dunia berkat performa impresifnya yang mencapai final Monte Carlo dan semifinal Madrid.
Tak hanya mereka, Luciano Darderi dan Flavio Cobolli juga mencuri perhatian dengan menjuarai turnamen di Marrakesh dan Bucharest pada April lalu — pertanda kedalaman talenta yang dimiliki Italia di balik dominasi Sinner, yang telah mengoleksi tiga gelar Grand Slam.
“Tenis Italia jelas sedang berada di era keemasan,” ujar kapten tim Davis Cup Italia, Filippo Volandri, kepada AFP. “Namun ini adalah buah dari kerja panjang yang dimulai sejak lama.”
Volandri, yang sembilan tahun terakhir bertanggung jawab atas pembinaan petenis putra di Federasi Tenis Italia (FITP), menunjukkan grafik kemajuan pesat tenis Italia dalam dua dekade terakhir.
Sebaiknya Anda baca juga:
Antara 2005 hingga 2015, petenis Italia hanya meraih delapan gelar ATP — tujuh di antaranya berasal dari level terbawah, ATP 250. Namun sejak 2016, jumlah gelar melonjak tiga kali lipat menjadi 31, termasuk lima dari level Masters 1000 dan tiga gelar Grand Slam milik Sinner.
“Jannik adalah produk dari gerakan yang sudah menghasilkan final Wimbledon dari Matteo Berrettini pada 2021. Ia adalah hasil dari sistem yang berjalan,” ujar Volandri.
Direktur Institut Pelatihan Tinggi FITP, Michelangelo Dell’Edera, menjelaskan bahwa federasi telah menerapkan sistem desentralisasi sejak akhir 1990-an. “Setiap provinsi punya pelatih khusus untuk anak usia 8-10 tahun, dan setiap region punya manajer yang memantau pemain usia 11 hingga 16,” jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebelumnya, pemain muda wajib pindah ke pusat pelatihan nasional di Tirrenia, Tuscany. Namun kini, pendekatan berubah. “Kami mendekati mereka, bukan mencabut mereka dari keluarga dan kehidupan mereka,” imbuh Volandri.
Dell’Edera menyebut perubahan filosofi latihan juga menjadi kunci kebangkitan tenis Italia. “Dulu tenis kami seperti maraton, reli panjang forehand dan backhand. Sekarang kami main ‘tenis cepat’ — fokus pada servis dan pengembalian, dua pukulan yang menentukan poin,” ujarnya.
Setiap tahun menjelang Rome Open, FITP menggelar seminar besar di Foro Italico yang dihadiri 12.000 pelatih dari seluruh Italia. Seminar ini membahas pelatihan fisik, strategi, hingga teknik, dengan kehadiran tokoh-tokoh tenis internasional seperti Emilio Sanchez dan Brad Gilbert yang hadir Sabtu lalu.
Gilbert, mantan pelatih legenda tenis Andre Agassi, terkesan dengan pendekatan Italia. “Mereka tidak hanya sampai ke puncak, tapi juga terus melangkah. Mereka berinvestasi besar dan punya tim pendukung hebat. Sinner adalah hadiahnya,” ucap Gilbert.
“Tapi ini bukan kerja semalam. Mereka mulai 10–15 tahun lalu dan hasilnya terus terlihat. Saya baru saja melihat anak ini... Federico Cina. Dia istimewa.”
Cina berpeluang langsung menguji kualitasnya jika lolos dari laga pembuka melawan Mariano Navone. Ia akan menghadapi Sinner di babak kedua Roma Open — duel generasi yang akan jadi sorotan publik Italia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!