13 Juta Mengungsi saat Perang Masuki Tahun ke-3
📅 Rabu, 16 Apr 2025, 02:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Joris Bolomey
PORT SUDAN – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (14/4) melaporkan bahwa perang saudara di Sudan telah menyebabkan 13 juta orang mengungsi. Laporan PBB itu disampaikan saat konflik antara tentara dan pasukan paramiliter (RSF) memasuki tahun ketiga.
“Konflik tersebut telah memicu pengungsian 13 juta orang, termasuk 8,6 juta pengungsi internal,” kata Abdourahouf Gnon-Konde dari badan pengungsi PBB dalam sesi wawancara dengan AFP.
Perang yang meletus pada tanggal 15 April 2023 telah menewaskan puluhan ribu orang, menyebabkan sebagian wilayah Sudan dilanda kelaparan dan memecah belah negara tersebut menjadi wilayah yang diperintah oleh panglima perang.
Menjelang peringatan dua tahun perang, tidak ada tempat yang lebih mempertaruhkan keselamatan daripada di Darfur, tempat RSF melancarkan serangan baru pekan lalu untuk merebut El-Fasher, kota besar terakhir di wilayah barat yang luas yang masih di bawah kendali tentara.
Serangan itu dimulai pada Kamis (10/4) lalu dan berlanjut hingga Minggu (13/4) pagi, menargetkan El-Fasher dan kamp-kamp pengungsian terdekat, termasuk Zamzam dan Abou Shouk yang keduanya dilanda kelaparan.
Sebaiknya Anda baca juga:
PBB yang mengutip keterangan dari narasumber yang dapat dipercaya mengatakan lebih dari 400 orang tewas dalam aksi kekerasan terbaru itu.
Pada Minggu, pasukan RSF mengklaim menguasai Zamzam. Sejak saat itu, sekitar 400.000 orang telah mengungsi dari kamp tersebut, kata Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB.
Sementara itu LSM Doctors Without Borders mengatakan sekitar 10.000 orang mengungsi ke Tawila, hampir 70 kilometer sebelah barat El-Fasher, dalam waktu 48 jam untuk menghindari pertempuran.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Warga sipil, kebanyakan perempuan dan anak-anak, tiba dalam kondisi dehidrasi dan kelelahan parah dan melaporkan kekerasan yang mengerikan,” kata badan amal medis internasional itu.
Bencana Kemanusiaan
RSF meningkatkan serangannya terhadap El-Fasher tak lama setelah tentara kembali menguasai Khartoum, sekitar 1.000 kilometer ke arah timur, bulan lalu.
Perang tersebut secara efektif telah membagi Sudan menjadi dua, dengan tentara menguasai wilayah utara dan timur sementara RSF menguasai sebagian besar Darfur dan, bersama sekutunya di sebagian wilayah selatan.
Menteri Luar Negeri Jerman, Annalena Baerbock, menggambarkan konflik tersebut sebagai bencana kemanusiaan terbesar di zaman kini, menyoroti kehancuran yang meluas, kelaparan, dan kekerasan seksual.
“Seluruh wilayah hancur, ratusan ribu keluarga mengungsi, jutaan orang kelaparan, dan perempuan serta anak-anak menjadi korban kekerasan seksual yang paling mengerikan,” ungkap dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!