Mengapa Tarif Impor Trump Bermanfaat bagi Dunia
📅 Selasa, 08 Apr 2025, 02:00 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: istimewa
Pengamat strategis dan keamanan, kebijakan luar negeri Amerika, dari Universitas Malaya, Malaysia, Collins Chong Yew Keat, baru-baru ini mengulas tentang kebijakan Presiden Donald Trump yang penuh kontroversi.
Menurut Chong, Amerika Serikat (AS) adalah negara dengan ekonomi terbesar, terkaya, dan terkuat di dunia Dikutip dari Eurasia Review, fakta ini saja memperkuat peran Amerika Serikat (AS) yang selama puluhan tahun kerap diabaikan dan dieksploitasi secara tidak adil sebagai penstabil ekonomi, pemberi bantuan, serta promotor perdamaian dan kesejahteraan. Peran penting ini bahkan sering luput dari perhatian para politisi Amerika konvensional.
Kini, tanggung jawab tersebut berada di tangan Presiden Donald Trump. Kenaikan tarif impor yang diberlakukan oleh Trump mendapat kecaman hampir secara universal di seluruh dunia. Namun, perspektif dan pendekatan dalam ekonomi dan perdagangan tidak selalu berpijak pada satu kebenaran yang universal. Selama puluhan tahun, AS telah menjaga perdamaian dan stabilitas keuangan global melalui dominasi dollar dan rekam jejak stabilitas yang telah terbukti.
Dengan kekuatan keamanannya sendiri serta arsitektur keuangan dan perdagangan yang dimilikinya, AS memastikan tegaknya hukum internasional serta keamanan jalur perdagangan dan maritim global.
Namun, tidak ada jaminan bahwa peran ini akan dilanjutkan atau dipertahankan oleh kekuatan lain jika posisi Amerika melemah. Negara-negara lain telah lama menerapkan praktik proteksionisme perdagangan dan ekonomi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Mulai dari manipulasi mata uang dan penerapan tarif hingga berbagai hambatan non-tarif, namun hal ini jarang menimbulkan kegaduhan besar. Namun, ketika Washington memutuskan untuk memperbaiki ketidakseimbangan tersebut, dunia justru tersentak dan bereaksi dengan gelombang kemarahan baru.
Hal ini terjadi terutama karena eksploitasi terhadap Amerika selama ini secara konvensional ditoleransi oleh negara-negara lain, yang dengan cerdik memanfaatkan kekayaan, teknologi, dan pasar Amerika, sementara hal tersebut sering diabaikan begitu saja oleh para pemimpin Amerika di masa lalu.
Telah Lama Diabaikan
Sebaiknya Anda baca juga:
Melalui kebijakan tarifnya, Trump tengah menghadapi masalah yang telah lama diabaikan oleh Amerika Serikat sejak berakhirnya standar emas pada tahun 1971, yakni menganganya jurang defisit fiskal dan perdagangan yang berpotensi menjadi bencana ekonomi.
Sejak sistem Bretton Woods tahun 1944, AS telah memikul tanggung jawab utama sebagai pemegang mata uang cadangan dunia, dengan segala keuntungan dan risikonya. Sebagai penggerak utama ekonomi global, dollar AS telah menjadi pelumas utama perdagangan internasional sejak saat itu. Amerika terus memasok likuiditas kepada bank-bank dan debitur global dengan menoleransi ketidakseimbangan perdagangan yang semakin besar.
Namun, pada 2 April lalu yang disebut sebagai “Hari Pembebasan” terjadi titik balik dari pergeseran besar yang, meskipun menimbulkan kemarahan dari para ekonom dan cendekiawan konvensional di seluruh dunia, termasuk Malaysia, justru diyakini akan membawa manfaat jangka panjang bagi dunia.
AS memiliki PDB hampir 30 triliun dollar AS, sedangkan Tiongkok berada di posisi kedua dengan 18 triliun dollar AS. Amerika sejauh ini merupakan negara terkaya dan paling maju secara teknologi di dunia dibandingkan negara lain mana pun di bumi.
Jika Amerika terus melemah secara ekonomi, finansial, dan militer seperti yang diharapkan banyak pihak, dan jika rencana reformasi tarif Trump ini tidak diberlakukan, maka itu akan berarti kehancuran yang sama bagi semua negara lain yang bergantung pada Amerika sebagai sistem pendukung ekonomi yang berkelanjutan.
Tidak ada satu negara pun yang dapat bertahan hidup sendiri dalam jangka panjang tanpa terikat pada mekanisme perdagangan global dan ekosistem yang dibangun dan dilindungi oleh Amerika. Kekuatan ekonomi yang tak tertandingi ini, di samping kekuatan militer yang tak tertandingi dan pencegahan dalam peperangan konvensional maupun non-konvensional, telah membuat Amerika terus menjadi pemimpin de facto dan penstabil tatanan berbasis aturan yang didasarkan pada hukum internasional, serta penjamin perdamaian dan keamanan global selama hampir satu abad sejak Perang Dunia II, mengalahkan fasisme, komunisme, dan ancaman non-tradisional baru berupa terorisme global.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!