Indonesia Terbanyak Kasus Keracunan Alkohol
📅 Sabtu, 18 Jan 2025, 14:20 WIB | Oleh: Tim PenulisTubuh kemudian mengubah formalin secara langsung menjadi asam format. Zat ini dapat merusak penglihatan hingga menyebabkan kebutaan.
2. Etilen glikol & dietilen glikol
Jenis alkohol beracun berikutnya adalah etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG). Pada 2023, kandungan EG/DEG dalam sirup obat batuk mengakibatkan kematian 195 anak balita di Indonesia.
Hal ini diduga terjadi akibat kesalahan penggunaan bahan baku obat. Drum berlabel propilen glikol (yang diperbolehkan digunakan dalam pembuatan obat) ternyata berisi EG.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika EG dicampur dalam obat, kadarnya menjadi jauh lebih tinggi, yaitu lebih dari 30%. Ini jauh melebihi ambang batas cemaran EG dalam produk yang tidak boleh melampaui 0,1%.
EG dan DEG biasanya digunakan dalam industri produk antibeku dan minyak rem. Harganya jauh lebih murah dibandingkan bahan baku obat, seperti gliserol dan propilen glikol.
Bahayanya, rasa manis yang dimiliki EG disalahgunakan sejumlah oknum sebagai bahan pelarut sekaligus pemanis obat sirup untuk anak.
Sebaiknya Anda baca juga:
EG yang diproses tubuh menghasilkan asam glikolat. Sedangkan DEG menghasilkan 2-hydroxyethoxyacetic acid. Kedua alkohol beracun ini dapat menyebabkan kerusakan sel nefron (bagian ginjal yang menyaring darah dan menghasilkan urine) sehingga memicu gagal ginjal akut.
3. Isopropanol
Isopropanol paling sering ditemukan dalam kandungan alkohol gosok 70% yang biasa digunakan untuk membersihkan noda membandel. Dalam tubuh, isopropanol dimetabolisme menjadi aseton yang bisa merusak organ tubuh.
Mencegah keberulangan kasus keracunan alkohol
Selama ini, tata laksana penanganan keracunan alkohol lebih bersifat suportif, yaitu dengan merangsang pasien agar muntah dan mengeluarkan bahan racun dari tubuh, disertai pemberian arang aktif untuk menyerap racun.
Upaya tersebut harus dilakukan sesegera mungkin (kurang dari sejam sejak keracunan alkohol). Sebab, perawatan yang tertunda dapat mengakibatkan efek lebih buruk.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!