Indonesia Terbanyak Kasus Keracunan Alkohol
📅 Sabtu, 18 Jan 2025, 14:20 WIB | Oleh: Tim PenulisUntuk menangkal keracunan metanol dan EG, kita membutuhkan penghambat enzim alcohol dehydrogenase bernama fomepizole. Namun, apabila keracunan alkohol lebih parah, pasien memerlukan terapi hemodialisis (cuci darah).
Selain langkah suportif, kita memerlukan pula upaya preventif (pencegahan) untuk mencegah keberulangan kasus keracunan alkohol di Indonesia, meliputi:
1. Alat pendeteksi alkohol beracun
Hingga saat ini, upaya deteksi cemaran alkohol beracun pada produk medis di Indonesia masih sangat terbatas, sulit dilakukan, serta membutuhkan laboratorium dan peralatan memadai.
Sebaiknya Anda baca juga:
Contohnya pada kasus cemaran EG dan DEG, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan metode standar untuk mengidentifikasi cemaran pakai alat kromatografi gas. Selain harganya cukup mahal dan hanya tersedia di beberapa laboratorium rujukan, pengoperasian kromatografi gas membutuhkan tenaga ahli.
Metode alternatif lebih cepat dan murah menggunakan kromatografi lapis tipis. Namun, metode ini juga membutuhkan laboratorium, peralatan, dan analis laboratorium terlatih.
Padahal, alat pendeteksi alkohol beracun sangat dibutuhkan berbagai lini untuk mendeteksi cemaran sedini mungkin, mulai dari pabrik pembuat obat (saat proses kontrol kualitas bahan baku) hingga ketika dipasarkan kepada konsumen.
Sebaiknya Anda baca juga:
2. BPOM perketat pengawasan
Peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sangat krusial dalam mengawasi, menindak, dan mencegah produk tercemar dikonsumsi oleh masyarakat. Hal ini sejalan dengan strategi pencegahan, pendeteksian, dan respons WHO.
Dalam hal ini, izin peredaran bahan kimia, seperti metanol dan isopropanol perlu diperketat. Produsen miras oplosan dan obat yang tercemar alkohol kemudian perlu diberikan sanksi tegas melalui pelarangan operasi maupun peredaran produk agar memutus rantai kasus keracunan alkohol.
3. Kolaborasi lintas keilmuan
Para ahli di Inggris menjalin kolaborasi lintas keilmuan guna menemukan metode-metode baru dalam mengatasi masalah cemaran alkohol beracun. Kolaborasi ini diperluas di tingkat Eropa melalui pertemuan yang mengkaji kualitas obat hingga teknologi deteksi cemaran EG dan DEG.
Kolaborasi ilmiah ini diharapkan dapat melahirkan solusi baru dalam mencegah dan mengatasi cemaran alkohol beracun. Transfer teknologi pun menjadi sangat mutlak melalui peran mahasiswa Indonesia di negara-negara tersebut yang membawa pulang dan menerapkan ilmu mutakhir ke Tanah Air demi kemaslahatan masyarakat Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!