Bisakah Program Makan Bergizi Gratis Memberi Ruang Inklusif untuk Anak dengan Disabilitas?
📅 Senin, 06 Jan 2025, 14:30 WIB | Oleh: Tim PenulisSecara global, program makan di sekolah sudah dimulai sekitar tahun 1700-an di Eropa. Data dari 176 negara menunjukkan sekitar 418 juta anak di seluruh dunia saat ini mendapatkan manfaat dari program pemberian makanan di sekolah.
Nigeria merupakan salah satu negara yang telah menerapkan program makan siang di sekolah inklusi yang diisi anak penyandang disabilitas dan nondisabilitas. Program tersebut diluncurkan tahun 2005 dan berpengaruh positif terhadap tingkat pendaftaran dan kehadiran siswa.
Sementara itu, Kolombia juga menerapkan program makan di sekolah yang dimulai tahun 2006 di bawah kementerian pendidikan setempat. Program tersebut turut menyasar anak penyandang disabilitas, bahkan mereka termasuk salah satu kelompok yang diprioritaskan selain kelompok etnis minoritas dan kelompok miskin.
Memastikan inklusivitas Makan Bergizi Gratis
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam penerapannya ke depan, pemerintah harus memastikan program MBG bersifat inklusif, dapat menjangkau kebutuhan seluruh siswa, termasuk siswa penyandang disabilitas dan pengidap alergi.
Konsep inklusivitas dalam konteks ini dapat diartikan sebagai sebuah pendekatan yang merangkul kebutuhan semua pihak. UNESCO menyebutkan bahwa program makan gratis dapat menjadi medium untuk mewujudkan tidak hanya kesetaraan, tetapi juga inklusivitas.
Sebuah studi menunjukkan pada dasarnya terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam proses implementasi program makan gratis yang inklusif. Pertama, menekankan pada pelibatan siswa penyandang disabilitas dalam proses perencanaan sehingga dalam proses penerapannya diharapkan dapat sesuai dengan kebutuhan mereka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kedua, penyelenggara program perlu memastikan isu aksesibilitas, baik aksesibilitas secara fisik maupun akses terhadap informasi gizi bagi siswa penyandang disabilitas berdasarkan ragamnya.
Ketiga, pelibatan komite orang tua dan komunitas penyandang disabilitas dapat menjadi opsi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sensitivitas pada aspek inklusivitas dalam program makan bergizi gratis. Dalam konteks ini, sering kali pihak orang tua tidak memiliki informasi atau pemahaman yang baik dalam penerapan program yang berkaitan dengan kebutuhan anaknya.
Deretan poin dalam studi tersebut bisa diterapkan pula untuk anak pengidap alergi. Agar penerapannya optimal, program MBG tentunya harus berlandaskan data yang akurat, lengkap, dan dinamis.
Dengan memastikan kelengkapan data anak penyandang disabilitas dan pengidap alergi, termasuk ragam kebutuhan spesifik terkait nutrisi yang mereka butuhkan, program MBG diharapkan dapat berjalan inklusif.
Sri Sunarti Purwaningsih, Peneliti Ahli Madya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Andhika Ajie Baskoro, Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Angga Sisca Rahadian, Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Isnenningtyas Yulianti, Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Zainal Fatoni, Peneliti Demografi Sosial, Pusat Riset Kependudukan BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!