Sosialita New York Ini Prihatin dengan Situasi di Suriah
📅 Selasa, 10 Des 2024, 00:32 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
NEW YORK - Mantan ratu kecantikan sekaligus sosialita New York, Lizzy Savetsky, baru-baru ini mengungkapkan keprihatinannya tentang apa yang terjadi di Suriah, pasca kejatuhan rezim Bashar al-Assad.
Melalui akun X @LizzySavetsky, perempuan keturunan Yahudi, menyampaikan kekhawatirannya soal kemungkinan dampak instabilitas di Timur Tengah, dengan berkuasanya kelompok pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang dipimpin oleh Abu Mohammed al-Jawlani di Suriah.
Dalam rekaman video yang diunggah pada Senin (9/12), Lizzy menjelaskan nahwa Bashar al-Assad adalah diktator yang tega menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri, dan kinu telah terbang meninggalkan Suriah setelah kelompok pemberontak menguasai Ibu Kota Damaskus.
"Ini adalah guncangan seismik di Timur Tengah. Namun mari kita kupas apa arti semua ini bagi Suriah, Israel, dan bagi dunia."
Dia menuturkan, Assad seharusnya tidak menjadi presiden. Ayahnya Hafez al-Assad telah memerintah Suriah selama 30 tahun dengan tangan besi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun saat Hafez meninggal pada tahun 2000, Bashar yang menempuh pend
didikan sebagai dokter spesialis mata, dipercaya memegang kekuasaan dengan sedikit pengalaman politik.
"Pada awalnya ada harapan soal reformasi. Tapi harapan itu segera sirna saat ia menindak tegas perbedaan pendapat dan menjerumuskan Suriah ke dalam perang saudara yang brutal pada 2011," ujarnya.
"Lebih dari setengah juta orang telah tewas, dan jutaan lainnya mengungsi."
Sebaiknya Anda baca juga:
"Menarik karena tidak ada kemarahan global tentang ini. Dan PBB meminta Israel menyerahkan dataran tinggi Golan dan berhenti menghitung korban yang jatuh," katanya.
Lizzy menjelaskan, Assad dapat bertahan sedemikian lama di kekuasaan karena bantuan dua sekutu terbesarnya, Russia dan Iran. Russia melakukan intervensi pada 2015 untuk menyelamatkan rezim Russia.
"Bagi Putin, Suriah bukan soal Assad, tapi tentang kekuasaan. Suriah memberikan pijakan bagi Russia di Timur Tengah, dengan pangkalan angkatan laut Tartus yang memberikan garansi akses ke kawasan Mediteran," ungkapnya.
"Dan Iran, selama bertahun-tahun Iran menggunakan Suriah sebagai tempat untuk mengirim senjata bagi Hisbullah dan membangun infrastruktur militer di depan halaman Israel."
Menururnya, tujuan Iran adalah membawa kehadiran paham Syiah mulai dari Teheran hingga kawasan Mediterania, dengan Suriah sebagai kunci dalam jalur itu.
Kini dengan kepergian Assad, Suriah dipimpin oleh HTS yang pernah berafiliasi dengan Al-Qaeda. "Dan tujuan mereka adalah mengubah Suriah menjadi tempat bernuansa Teokrasi Taliban," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!