Waspadai Gejala Fatty Liver Sebelum Menjadi Sirosis
📅 Rabu, 01 Okt 2025, 20:02 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: RSPI
JAKARTA - Penumpukan lemak berlebih di hati (sering dikaitkan dengan obesitas atau alkohol) berisiko menyebabkan kerusakan serius jika tidak diatasi. Karena gejalanya tidak terlihat di awal, pemeriksaan kesehatan hati secara berkala menjadi langkah terbaik untuk mendeteksi dan mencegah perburukan.
“Perlemakan hati atau fatty liver disease merupakan salah satu penyakit organ hati yang sering terjadi, selain hepatitis A, B, dan C. Dalam kasus ini, terjadi penumpukan zat lemak, terutama trigliserida, di dalam sel hati,” ujar dr. Lianda Siregar, Sp. P.D, Subsp. G.E.H. (K), FINASIM Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Gastroenterologi Hepatologi RS Pondok Indah – Puri Indah, dalam keterangannya pada hari Rabu (1/20).
Perlemakan hati dapat terjadi pada setiap orang, meskipun lebih banyak dialami oleh mereka yang berusia di atas 30 tahun. Dari data epidemiologi, perlemakan hati terjadi pada 10-35 persen populasi umum, dan mencapai 40-90 persen pada penderita obesitas.
Apa itu perlemakan hati dan apa penyebabnya?
Perlemakan hati (steatosis hati) adalah kondisi di mana terdapat penumpukan lemak berlebih di dalam sel-sel hati. Asupan makanan yang banyak mengandung lemak, tinggi karbohidrat, serta konsumsi alkohol yang berlebihan (alkoholik) menjadi faktor pencetus terbanyak untuk kondisi ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penyebab perlemakan hati dapat dikategorikan sesuai jenisnya, yakni Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) dan Non Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD).
Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) adalah jenis perlemakan hati yang disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebihan secara rutin. Saat alkohol berlebih masuk ke dalam tubuh, hati harus bekerja lebih keras untuk memecah alkohol.
Proses pemecahan alkohol ini dapat mengganggu metabolisme sel-sel pada jaringan hati. Dalam jangka panjang hal ini akan menurunkan kemampuan hati untuk memecah lemak, dan justru meningkatkan fungsi hati dalam menyimpan lemak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Non Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). Perlemakan hati juga dapat terjadi tanpa adanya konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan. Meskipun penyebab pasti kondisi ini lebih sulit diketahui, tetapi biasanya NAFLD dipengaruhi oleh sindrom metabolik dan beberapa kondisi medis lainnya, seperti, dan obesitas atau berat badan berlebih, berat badan yang turun secara drastis.
Penyebab lainnya adalah diabetes, kadar kolesterol, terutama trigliserida, yang tinggi, hiperglikemia, tekanan darah tinggi (hipertensi), hepatitis kronis, terutama hepatitis C, malnutrisi, dan konsumsi obat-obatan tertentu dalam waktu yang lama atau dengan dosis yang tinggi
Perlemakan hati jenis NAFLD terbagi menjadi beberapa derajat, dimulai dari derajat ringan yang disebut steatosis (penumpukan lemak di hati). Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi Non Alcoholic Steatohepatitis (NASH) di mana terjadi peradangan dan kematian sel hati yang memicu terbentuknya jaringan parut (fibrosis).
“Seiring waktu, fibrosis dapat berlanjut menjadi sirosis hati yang menyebabkan kerusakan hati permanen, penurunan fungsi, bahkan dapat berkembang menjadi kanker hati jika tidak ditangani dengan tepat. Oleh karena itu, kondisi perlemakan hati sebaiknya dideteksi dan ditangani sedini mungkin,” papar dr. Lianda.
Gejala Perlemakan Hati
Di tahap awal, penyakit pada organ hati biasanya tidak menunjukkan gejala spesifik. Meski demikian, berikut beberapa gejala perlemakan hati yang umum terjadi, kelelahan yang berlebihan, bahkan setelah beristirahat dengan cukup, nyeri atau ketidaknyamanan di perut, pembesaran organ hati. Selanjutnya mual dan penurunan nafsu makan hingga menyebabkan penurunan berat badan, kulit dan mata menguning (jaundice), dan gatal-gatal pada kulit
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!