Refleksi Hari Wayang Nasional, Bagaimana Nasib Wayang di Era Digital
📅 Kamis, 21 Nov 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis1. Dominasi budaya populer global
Dalam dunia yang semakin terhubung oleh internet, contohnya, kesenian tradisional sering kali terpinggirkan oleh dominasi budaya populer global yang lebih mudah diakses dan memiliki daya tarik yang lebih universal.
Musik pop mancanegara, film mancanegara, video games, dan bentuk hiburan digital lainnya sering kali lebih menarik perhatian generasi muda dibandingkan kesenian tradisional.
2. Komodifikasi seni
Sebaiknya Anda baca juga:
Komodifikasi seni juga menjadi tantangan besar.
Arjun Appadurai, antropolog budaya kontemporer dari India, mengartikan komodifikasi sebagai sebuah komoditas yang sebelumnya tidak bernilai ekonomi, dimodifikasi menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi agar dapat diperdagangkan di pasar.
Ketika sebuah seni tradisional diproduksi berdasarkan hukum pasar bebas, muncul risiko hilangnya nilai-nilai filosofis dan makna terdalam demi memenuhi permintaan pasar. Chris Barker, seorang peneliti budaya dari Australia, menyebut hal ini sebagai “pergeseran dari sakral ke profan”, yaitu ketika seni yang awalnya memiliki fungsi spiritual atau sosial berubah menjadi sekadar produk konsumsi.
Sebaiknya Anda baca juga:
3. Perubahan pola hidup masyarakat
Kesenian tradisional, yang sering kali membutuhkan waktu, ruang, dan komunitas tertentu untuk tampil, mulai kehilangan panggungnya di tengah gaya hidup modern yang serba cepat dan individualistis.
Di beberapa daerah, contohnya, urbanisasi telah menyebabkan hilangnya ruang-ruang publik tradisional, seperti alun-alun dan balai desa, yang biasanya menjadi tempat pertunjukan seni. Ini menyebabkan kurangnya regenerasi pelaku seni tradisional yang kemudian menambah ancaman bagi kelangsungan seni wayang.
Selain itu, banyak generasi muda yang tidak tertarik untuk mempelajari atau melanjutkan seni wayang karena dianggap kuno atau tidak relevan dengan masa kini. Kurang memadainya sarana untuk proses regenerasi budaya seperti pelatihan dan pendidikan formal tentang seni wayang, baik di sekolah maupun institusi pendidikan seni, memperparah hal ini.
Agar tak lekang ditelan zaman
Penelitian tahun 2023, menyebutkan bahwa saat ini, visi dalang terbagi menjadi dua. Ada dalang yang mengedepankan aspek wayang hanya sebagai tontonan dengan menggabungkan unsur biduan dangdut serta komedian, dan dalang yang konsisten menjadikan wayang sebagai tuntunan tanpa unsur tontonan (hiburan).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!