Refleksi Hari Wayang Nasional, Bagaimana Nasib Wayang di Era Digital
📅 Kamis, 21 Nov 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara/Prasetia Fauzani
M. Luthfi Khair A, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Belum lama ini, tepatnya pada 7 November, kita memperingati Hari Wayang Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2018. Sejarah Hari Wayang Nasional dimulai pada akhir 1990-an, ketika globalisasi menimbulkan kekhawatiran jika seni tradisional seperti wayang kulit bisa kehilangan eksistensinya di tengah arus perkembangan zaman.
Di bawah kepemimpinan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada waktu itu, Wardiman Djojonegoro, serta tokoh budaya R.M. Soedarsono, pemerintah mulai berupaya serius untuk mengangkat wayang kulit di kancah internasional.
Setelah melalui proses yang panjang, pada 7 November 2003 UNESCO menetapkan wayang sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity. Penetapan status ini diluncurkan oleh program UNESCO tahun 1997-2005 yang bertujuan untuk mengidentifikasi, melestarikan, dan meningkatkan kesadaran tentang bentuk-bentuk budaya tak benda yang dianggap sebagai mahakarya. Ini mencakup berbagai tradisi lisan, seni pertunjukan, ritual, upacara, dan keahlian tradisional yang bernilai luar biasa dalam memelihara identitas budaya masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lima tahun kemudian, tepatnya pada 4 November 2008, Wayang masuk daftar warisan budaya tak benda UNESCO dalam kategori Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity dengan judul The Wayang Puppet Theater. Program ini adalah kelanjutan dari program Masterpiece of the Oral yang selesai di tahun 2005.
Namun, tantangan wayang tidak berhenti sampai di sini. Di tengah perkembangan teknologi digital, wayang harus bersaing dengan dominasi budaya populer global yang lebih mudah diakses dan memiliki daya tarik yang lebih universal seperti musik, film atau video games.
Mengapa penting melestarikan wayang
Sebaiknya Anda baca juga:
Berakar dari kata ‘bayangan’ yang kemudian menjadi ‘wayangan’, wayang sudah ratusan tahun mengajarkan masyarakat untuk mengenali diri sendiri melalui pendidikan moral dan spiritual. Dalam wayang, dalang berperan sebagai komunikator etis yang menyampaikan nilai-nilai kebaikan, keadilan, dan kebijaksanaan melalui cerita-cerita klasik seperti Ramayana dan Mahabharata.
Para tokoh wayang, seperti Semar, Bisma, dan Krisna, digambarkan sebagai contoh karakter yang luhur, yang bisa menjadi cerminan ideal perilaku bagi masyarakat.
Clifford Geertz, antropolog dari Amerika Serikat (AS) yang melakukan studi pada masyarakat di Jawa, menyoroti dimensi spiritual dalam wayang yang memperkuat ikatan manusia dengan alam semesta dan entitas suci. Ia mencatat bahwa wayang membawa unsur sinkretisme yang menyatukan elemen-elemen agama Hindu, Buddha, dan Islam, sehingga menciptakan harmoni religius yang unik dalam konteks masyarakat pluralis Indonesia.
Pengakuan UNESCO bahwa wayang adalah warisan budaya tak benda dunia, menegaskan nilai universalnya sebagai media yang menyampaikan ajaran-ajaran moral lintas generasi dan budaya. Wayang berperan sebagai “agen komunikasi sosial” yang berfungsi menyampaikan kritik sosial serta pandangan politik secara terselubung. Ini menjadikan wayang bukan hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai alat perlawanan budaya yang mampu menyesuaikan diri dengan konteks zaman.
Tantangan wayang masa kini
Kesenian tradisional seperti wayang tengah menghadapi tiga tantangan kompleks akibat perubahan dinamika sosial, budaya, dan ekonomi di era modern.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!