Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Teori 'Tired Light' yang Menentang Peristiwa Dentuman Besar

📅 Kamis, 10 Okt 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Teori 'Tired Light' yang Menentang Peristiwa Dentuman Besar Doc: NASA

Para ilmuwan sepakat bahwa Dentuman Besar (Big Bang) merupakan sebuah peristiwa yang menyebabkan pembentukan alam semesta. Teori lain menawarkan hal berbeda dengan menyatakan saat cahaya bergerak melalui ruang angkasa, ia kehilangan energi dalam jarak yang sangat jauh karena interaksi dengan partikel atau medan.

Sebuah studi observasional baru-baru ini menentang salah satu teori sains modern yang paling diterima secara luas yaitu teori Dentuman Besar (Big Bang). Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Particles itu menyatakan bahwa perluasan alam semesta mungkin tidak disebabkan oleh ledakan besar miliaran tahun yang lalu.

Menurut para pengusulnya dari tim ilmuwan dari Kansas State University Amerika Serikat (AS) perluasan alam semesta disebabkan oleh penjelasan teori alternatif "pinggiran" yang telah ada selama hampir satu abad teori yaitu "Cahaya Lelah" (Tired Light).

"Teori Cahaya Lelah banyak diabaikan karena para astronom mengadopsi teori Big Bang sebagai model konsensus alam semesta," kata Dr Lior Shamir, penulis studi dan profesor madya ilmu komputer di Kansas State University dalam sebuah rilis dikutip dari the debrief.org.

"Namun keyakinan beberapa astronom terhadap teori Big Bang mulai melemah ketika Teleskop Luar Angkasa James Webb (James Webb Space Telescope/JWST) yang kuat melihat cahaya pertama," tambah dia.

Dr Shamir menjelaskan bahwa JWST memberikan gambar yang lebih dalam dari alam semesta yang sangat awal, tetapi alih-alih menunjukkan alam semesta awal yang masih bayi seperti yang diharapkan para astronom, ia menunjukkan galaksi yang besar dan matang. Jika Big Bang terjadi seperti yang awalnya diyakini para ilmuwan, maka galaksi-galaksi ini lebih tua dari alam semesta itu sendiri.

Teori Big Bang sendiri telah lama menjadi penjelasan yang berlaku untuk asal usul alam semesta. Menurut teori ini, alam semesta dimulai sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Awalnya berupa singularitas yang sangat panas dan padat, mengembang dengan cepat dan mendingin seiring waktu.

Peristiwa ini diyakini telah menjadi dasar bagi kosmos, yang mengarah pada pembentukan galaksi, bintang, dan planet. Teori Big Bang didukung oleh beberapa bukti, seperti radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik, distribusi galaksi, dan pergeseran merah cahaya yang diamati dari galaksi-galaksi jauh yang menyiratkan bahwa alam semesta mengembang.

Namun dalam studi baru ini, Dr Shamir menyatakan bahwa pergeseran merah fenomena ketika cahaya dari objek yang jauh bergeser ke ujung spektrum merah, yang menunjukkan bahwa objek tersebut bergerak menjauh mungkin tidak serta merta membuktikan bahwa alam semesta mengembang seperti yang disarankan oleh teori Big Bang.

Sebaliknya, bukti dapat mendukung alternatif yaitu teori Cahaya Lelah. Teori ini pertama kali diajukan pada tahun 1929 oleh astronom Swiss bernama Dr Fritz Zwicky. Teori ini menawarkan penjelasan yang berbeda untuk pergeseran merah yang diamati dalam cahaya dari galaksi yang jauh.

Menurut teori ini, saat cahaya bergerak melalui ruang angkasa, ia kehilangan energi dalam jarak yang sangat jauh karena interaksi dengan partikel atau medan, yang menyebabkannya "lelah" dan bergeser ke panjang gelombang yang lebih panjang, seperti merah. Proses ini akan memberi penampakan alam semesta yang mengembang tanpa memerlukan gerakan galaksi yang sebenarnya keluar dari titik pusat, seperti yang diajukan oleh teori Big Bang.

Teori "Cahaya Lelah" awalnya dikesampingkan oleh komunitas ilmiah demi teori Big Bang, terutama karena teori ini tidak dapat sepenuhnya menjelaskan pengamatan tertentu, seperti radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik dan kecerahan permukaan galaksi yang berevolusi seiring waktu.

Namun, pengamatan dan analisis terkini, seperti yang disajikan dalam studi baru ini, dapat mendorong evaluasi ulang hipotesis Dr Zwicky. Dalam makalah yang baru diterbitkan, Dr Shamir berpendapat bahwa data observasional terkini menantang interpretasi standar pergeseran merah sebagai bukti ekspansi universal.

Studi tersebut menunjukkan bahwa model Cahaya Lelah mungkin lebih baik menjelaskan fenomena kosmologi tertentu khususnya bagaimana cahaya berperilaku dalam jarak kosmik yang sangat jauh.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Megapolitan
Para Kader Posyandu Tangera...

Bunga Tinggi The Fed Bikin Mental Rupiah Keder

39 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Ekonomi
Bunga Tinggi The Fed Bikin ...

Perluasan Pasar Bisa Melalui Mekanisme Digital

44 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Perluasan Pasar Bisa Melalu...

Pembangunan SDM, Sekolah-sekolah di Tangsel Bersifat Inklusif

46 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Pembangunan SDM, Sekolah-se...
Ekonomi
Harga Cabai Rawit Rp71.600/...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.