Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Teori 'Tired Light' yang Menentang Peristiwa Dentuman Besar

📅 Kamis, 10 Okt 2024, 06:10 WIB | Oleh:

Studi tersebut berfokus pada perbedaan antara data yang diamati dan prediksi yang dibuat oleh model Big Bang, termasuk laju ekspansi yang disimpulkan dari data pergeseran merah. Dr Shamir menunjukkan bahwa sementara teori Big Bang memprediksi laju ekspansi yang seragam, data observasional menunjukkan gambaran yang lebih kompleks yang dapat ditafsirkan melalui kerangka kerja Cahaya Lelah.

Selain itu, studi tersebut memperkenalkan serangkaian perhitungan dan simulasi untuk menunjukkan bagaimana model Cahaya Lelah dapat selaras dengan data terkini tentang struktur dan perilaku alam semesta. Hal ini menunjukkan bahwa model Cahaya Lelah berpotensi menjelaskan fenomena seperti ketidakkonsistenan konstanta Hubble yang mewakili laju ekspansi alam semesta yang telah menjadi subjek perdebatan sengit dalam komunitas ilmiah.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa galaksi yang berotasi ke arah berlawanan relatif terhadap Bima Sakti memiliki pergeseran merah yang lebih rendah dibandingkan dengan galaksi yang berotasi ke arah yang sama relatif terhadap Bima Sakti," terang Dr Shamir.

"Perbedaan tersebut mencerminkan gerakan Bumi saat berotasi dengan Bima Sakti. Namun, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa perbedaan pergeseran merah meningkat saat galaksi berada lebih jauh dari Bumi. Karena kecepatan rotasi Bumi relatif terhadap galaksi adalah konstan, alasan perbedaannya bisa jadi adalah jarak galaksi dari Bumi. Itu menunjukkan bahwa pergeseran merah galaksi berubah seiring jarak, yang merupakan apa yang diprediksi Zwicky dalam teori Cahaya Lelah-nya," ungkap dia.

Serukan Pertimbangan

Temuan penelitian tersebut tidak sepenuhnya menolak teori Big Bang tetapi menyerukan pertimbangan yang lebih luas tentang penjelasan alternatif yang juga dapat sesuai dengan data yang tersedia. Dr Shamir menyarankan bahwa teori Cahaya Lelah layak mendapat perhatian baru, terutama mengingat kemajuan terkini dalam teknologi observasi yang memberikan pandangan yang lebih jelas tentang fenomena kosmik.

Meskipun penelitian baru ini menawarkan bukti menarik yang mendukung teori Cahaya Lelah, komunitas ilmiah kemungkinan akan mendekati klaim tersebut dengan hati-hati. Pasalnya teori Big Bang telah menjadi model kosmologi yang dominan selama hampir satu abad. Teori ini didukung oleh data observasi yang luas, termasuk distribusi galaksi di seluruh alam semesta. hay/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ekonomi
Sentimen The Fed Masih Domi...
Olahraga
Naomi Siap Hadapi Elise Mer...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.