Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Alam Semesta Mengembang Lebih Cepat dari yang Diduga

📅 Kamis, 23 Jan 2025, 06:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Alam Semesta Mengembang Lebih Cepat dari yang Diduga Doc: NASA’s Hubble Space Telescope

Para astronom dibuat bingung oleh bukti baru-baru ini bahwa alam semesta mengembang pada tingkat yang berbeda sepanjang hidupnya. Temuan baru berisiko mengubah ketegangan menjadi krisis dalam bidang kosmologi.

1737558522_f382f27875e93012ce0b.jpg

Ketegangan Hubble yang telah lama ada semakin menegang dengan pengukuran baru. hasil pengamatan mengungkap alam semesta mengembang lebih cepat daripada yang dapat dijelaskan oleh pemahaman ilmuwan dengan ilmu fisika yang membuat kosmologi berada dalam krisis yang semakin besar.

Pemicunya adalah pengamatan, yang pertama kali dilakukan oleh Teleskop Luar Angkasa Hubble dan kemudian diikuti oleh Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST). Hasil pengamatan teleskop terbaru NASA itu mengatakan alam semesta mengembang pada tingkat yang berbeda tergantung pada tempat para astronom mengamati.

Sekarang, hasil baru menggunakan gugus galaksi di halaman belakang kosmik Galaksi Bima Sakti sendiri telah semakin mengonfirmasi perbedaan tersebut, yang membuka kosmologi untuk penulisan ulang yang besar. Para peneliti menerbitkan temuan mereka pada tanggal 15 Januari 2024 di The Astrophysical Journal Letters.

“Ketegangan kini berubah menjadi krisis,” kata penulis utama Dan Scolnic, seorang profesor fisika di Universitas Duke, dalam sebuah pernyataan. “Ini berarti, dalam beberapa hal, bahwa model kosmologi kita mungkin telah rusak,” kata dia dikutip dari Live Science.

Ada dua metode standar emas untuk menghitung konstanta Hubble nilai yang mengukur kecepatan perluasan alam semesta. Yang pertama diambil dengan mengukur fluktuasi kecil dalam latar belakang gelombang mikro kosmik (cosmic microwave background/CMB) potret kuno cahaya pertama alam semesta yang terkandung dalam gelombang mikro statis yang dihasilkan hanya 380.000 tahun setelah Big Bang.

Metode kedua beroperasi pada jarak yang lebih dekat (dalam kehidupan alam semesta selanjutnya) menggunakan bintang-bintang yang berdenyut yang disebut variabel Cepheid. Bintang-bintang Cepheid perlahan-lahan mati, dan lapisan luar gas heliumnya tumbuh dan menyusut saat menyerap dan melepaskan radiasi, membuatnya berkedip seperti lampu sinyal yang jauh.

Saat Cepheid semakin terang, mereka berdenyut lebih lambat, memungkinkan para astronom untuk mengukur kecerahan intrinsik bintang-bintang. Dengan membandingkan kecerahan bintang yang sebenarnya dengan kecerahan yang diamati dari Bumi dan menggunakan supernova Tipe Ia sebagai jangkar. Supernova jenis ini meledak dengan luminositas yang sama di mana-mana.

Para astronom dapat merangkai pembacaan Cepheid menjadi “tangga jarak kosmik” untuk mengintip lebih dalam ke masa lalu alam semesta. Namun di sinilah masalah dimulai. Dengan menggunakan satelit Planck milik Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk mengukur CMB, para kosmolog memperoleh konstanta Hubble sekitar 67 kilometer per detik per megaparsec (km/s/Mpc).

Hasil ini, bersama dengan pengukuran lain dari alam semesta awal, selaras dengan prediksi yang dibuat oleh model standar kosmologi. Namun, hal itu dengan cepat dibantah oleh pengukuran tangga jarak Cepheid yang mengungkapkan laju ekspansi 73 km/s/Mpc nilai yang jauh di luar rentang kesalahan pengukuran Planck, dan indikasi yang jelas bahwa alam semesta mengembang jauh lebih cepat daripada yang diizinkan oleh teori.

1737558523_cf203e008718ca49cf31.jpg

Para astronom telah memberi berbagai penjelasan tentang penyebab ketidaksepakatan tersebut, dengan beberapa mencoba mengungkap kemungkinan kesalahan sistematis dalam hasil tersebut. Sementara itu, yang lain semakin mempererat ketegangan dengan pengukuran tangga jarak yang semakin tepat.

Untuk menyelidiki ketegangan lebih lanjut, tim di balik studi baru tersebut menggunakan tangga jarak yang dibuat dengan data yang diambil dari Dark Energy Spectroscopy Instrument (DESI). Data dari alat ini menunjukkan posisi bulanan jutaan galaksi untuk mempelajari bagaimana alam semesta mengembang hingga saat ini.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar

Kebakaran Meluas, Wisata Gunung Bromo Ditutup Total

2 jam lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Daerah
Kebakaran Meluas, Wisata Gu...
Nasional
MTQ Nasional XXXI Dibuka, M...
Advertisement
Kapolri Listyo Sigit Hadiri Pameran Nasirun di Galeri Nasional, Apresiasi Seni Budaya Indonesia.

Kapolri Listyo Sigit Hadiri Pameran Nasirun di Galeri Nasional, Apresiasi Seni Budaya Indonesia.

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.