“Sokotra', Galapagos dari Samudra Hindia
📅 Senin, 30 Sep 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoMeskipun merupakan kepulauan kecil, Sokotra merupakan rumah bagi lebih dari 730 spesies ikan pesisir, 230 spesies karang keras (lima diantaranya endemik), dan 30 spesies karang lunak. Selain itu terdapat 300 spesies krustasea (sembilan diantaranya endemik), 490 spesies moluska, dan 230 spesies alga.
Terancam Punah
Meski berada jauh dari keramaian dunia sayangnya, kehidupan tumbuhan dan hewan di sini menghadapi ancaman yang serupa dengan yang ada di seluruh dunia. Salah satu ancaman ini adalah spesies invasif seperti kambing yang diternakkan masyarakat.
Karena pohon darah naga tumbuh lambat, kambing memakan pohon muda sebelum mereka memiliki kesempatan untuk tumbuh. Padahal pohon-pohon tersebut dapat mencapai usia ribuan tahun, tetapi semakin sulit bagi mereka untuk berkembang biak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Masalah lain yang dihadapi pulau ini adalah cuaca. Pada musim gugur tahun 2015, dua siklon menghantam kepulauan itu dalam satu pekan. Kemudian pada tahun 2018, badai lain melanda, menyebabkan banjir besar dan korban jiwa. Badai besar seperti ini dapat terus berdampak pada kepulauan itu karena perubahan iklim. Selain itu, hasil panen menurun dan tanah tidak sehijau dulu.
Pada tahun 2018, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) merekomendasikan untuk menempatkan Kepulauan Sokotra dalam Daftar Warisan Dunia yang Terancam.
"Kepulauan Sokotra menghadapi banyak ancaman dan banyak diantaranya berasal dari aktivitas manusia yang serba cepat yang harus dikendalikan," kata Peter Shadie, penasihat senior Warisan Dunia di Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), dalam sebuah pernyataan pers.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Menempatkan situs tersebut dalam Daftar Warisan Dunia yang Terancam dapat membantu memobilisasi tindakan yang sama cepatnya untuk mengamankan konservasi Sokotra sambil menanggapi kebutuhan masyarakat setempat," imbuh dia.
Berkat jaraknya yang jauh dari daratan, masyarakat Sokotra dapat terhindar dari konflik selama beberapa tahun. Namun, pada tahun 2018, perang antara Yaman dan Uni Emirat Arab akhirnya meletus di pulau tersebut dan Sokotra menjadi fokus perebutan kekuasaan antara kedua pemerintah tersebut.
Kemudian pada tahun 2020, separatis Yaman yang dikenal sebagai Dewan Transisi Selatan (STC) merebut kendali pulau tersebut dari pemerintah yang didukung Saudi. Namun, UEA masih memegang banyak kekuasaan di sana.hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!