Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Diversifikasi Energi Mandek Tanpa PLTS 100 GW, YLKI Minta Pemerintah Bergerak Cepat

📅 Minggu, 21 Jun 2026, 18:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
Diversifikasi Energi Mandek Tanpa PLTS 100 GW, YLKI Minta Pemerintah Bergerak Cepat Doc: ANTARA/ HO-PMSE.
Ket. Foto udara Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat.

JAKARTA – Diversifikasi energi menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian pasokan dan fluktuasi harga energi global.

Upaya memperluas bauran energi melalui pemanfaatan energi baru terbarukan, gas bumi, hingga bioenergi tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga membuka peluang investasi dan penciptaan lapangan kerja.

Dalam jangka panjang, keberhasilan diversifikasi energi akan menentukan kemampuan Indonesia menjaga stabilitas ekonomi sekaligus memenuhi target transisi menuju pembangunan rendah karbon.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mendukung langkah pemerintah memperkuat energi baru dan terbarukan, termasuk wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW untuk diversifikasi energi.

“Kebijakan tersebut harus dipandang sebagai upaya strategis menyediakan energi alternatif bagi konsumen agar masyarakat memiliki pilihan dan tidak sepenuhnya bergantung pada satu sumber pasokan listrik nasional,” ujar Sekretaris Eksekutif YLKI Rio Priambodo dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Minggu (21/6).

Menurut Rio, diversifikasi energi harus diarahkan untuk memperkuat posisi konsumen, menciptakan kemandirian energi, sekaligus meningkatkan ketahanan sistem kelistrikan nasional.

Energi terbarukan bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga bagian dari perlindungan konsumen.

Pernyataan tersebut terkait dengan pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia sejak awal Juni 2026. Rio menilai pemadaman listrik bergilir merupakan persoalan serius yang tidak boleh dianggap sebagai gangguan teknis biasa.

Rio menyampaikan, listrik bukan sekadar komoditas, melainkan kebutuhan dasar masyarakat yang menopang kehidupan, pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi.

“Ketika listrik padam, yang terganggu bukan hanya aliran energi, tetapi juga kualitas hidup dan kepastian hak konsumen,” ucapnya.

YLKI memahami gangguan teknis dapat terjadi dalam sistem kelistrikan. Namun, pemadaman yang berulang menunjukkan ada persoalan yang harus dievaluasi secara menyeluruh, baik dari sisi keandalan pembangkit, jaringan distribusi, manajemen risiko, maupun tata kelola pelayanan.

“Energi adalah urat nadi kehidupan. Negara yang kuat bukan hanya negara yang mampu menghasilkan listrik, tetapi negara yang mampu menjamin rakyatnya mendapatkan energi yang andal, adil, dan berkelanjutan,” ujar Rio.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
Olahraga
Janice/Hunter Melaju ke Fin...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.