Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Amerika Serikat Pertahankan Sistem Misil di Filipina

📅 Jumat, 20 Sep 2024, 02:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Amerika Serikat Pertahankan Sistem Misil di Filipina Doc: AFP/JAM STA ROSA
Ket. Sistem Misil AS l ­Sejumlah tentara AS dan Filipina berkumpul dekat sistem misil permukaan-ke-udara Patriot ketika digelar latihan militer gabungan Balikatan di San Antonio, Provinsi Zambales, Filipina, pada April 2023 lalu. Pada Kamis (19/9) seorang narasumber mengungkapkan bahwa saat ini AS tidak memiliki rencana segera untuk menarik sistem misil jarak menengah Typhon yang ditempatkan di Filipina.

MANILA - Amerika Serikat (AS) tidak memiliki rencana untuk segera menarik sistem misil jarak menengah yang ditempatkan di Filipina meskipun ada tuntutan dari Tiongkok, dan sedang menguji kelayakan penggunaannya dalam konflik regional, kata seorang narasumber yang mengetahui masalah tersebut.

Sistem misil Typhon yang dapat dilengkapi dengan misil jelajah yang mampu menyerang target di Tiongkok, didatangkan hanya untuk digunakan pada latihan gabungan pada awal tahun 2024 lalu, kata kedua negara pada saat itu, akan tetapi kini sistem misil tersebut akan tetap berada di sana.

Filipina yang adalah negara tetangga Taiwan di selatan, merupakan bagian penting dari strategi AS di Asia dan akan menjadi titik persiapan yang sangat diperlukan bagi militer untuk membantu Taipei jika terjadi serangan dari Tiongkok.

Tiongkok dan Russia mengecam langkah tersebut yang disebutnya merupakan penyebaran pertama dari sistem misil tersebut ke Indo-Pasifik dan menuduh Washington DC telah memicu perlombaan senjata.

Pada Kamis (19/9) Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengatakan pihaknya sangat prihatin dengan rencana untuk mempertahankan sistem misil tersebut. "Hal ini secara serius mengancam keamanan negara-negara regional dan mengintensifkan konfrontasi geopolitik," kata Lin Jian, juru bicara kementerian itu.

Sistem misil Typhon dapat meluncurkan misil SM-6 dan Tomahawk dengan jangkauan melebihi 1.600 kilometer. Pengerahan persenjataan tersebut terjadi saat Tiongkok dan Filipina bentrok di beberapa wilayah Laut Tiongkok Selatan (LTS) yang diperebutkan dengan sengit. Beberapa bulan terakhir bahkan telah terjadi serangkaian konfrontasi laut dan udara di jalur perairan strategis tersebut.

Para pejabat Filipina mengatakan pasukan Filipina dan AS terus berlatih dengan sistem misil yang kini berada di Luzon utara yang menghadap LTS dan dekat dengan Selat Taiwan, serta menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui adanya rencana untuk segera mengembalikannya, meskipun latihan bersama telah berakhir pada September ini.

Seorang juru bicara Angkatan Darat Filipina, Kolonel Louie Dema-ala, mengatakan pada Rabu (18/9) lalu bahwa pelatihan sedang berlangsung dan terserah kepada pihak Angkatan Darat AS di Pasifik (Usarpac) untuk memutuskan berapa lama sistem misil itu akan bertahan.

Seorang pejabat senior pemerintah Filipina, yang berbicara dengan syarat anonim, dan seorang lainnya yang mengetahui masalah tersebut mengatakan bahwa AS dan Filipina sedang menguji kelayakan penggunaan sistem misil Typhon di sana jika terjadi konflik, untuk menguji seberapa baik sistem misil itu berfungsi di lingkungan itu.

Pejabat pemerintah tersebut mengatakan Typhon, sebuah sistem misil modular yang dapat dipindah-pindahkan sesuai kebutuhan, berada di Filipina untuk uji coba kelayakan penerapannya di suatu negara, sehingga ketika diperlukan, sistem tersebut dapat dengan mudah diterapkan di sana.

Tantangan Terbesar

Sementara itu seorang diplomat senior AS pada Rabu mengatakan bahwa saat ini Tiongkok merupakan tantangan terbesar dalam sejarah AS.

"Tiongkok menghadirkan tantangan terbesar bagi AS dalam seluruh sejarahnya, melampaui Perang Dingin," ucap Wakil Menteri Luar Negeri AS, Kurt Campbell. "Ini bukan sekadar tantangan militer; ini tantangan menyeluruh. Ini terjadi di belahan bumi selatan. Tantangan ini juga dalam bidang teknologi. (Oleh karena itu) kita perlu meningkatkan kemampuan kita di semua bidang," imbuh Campbell.

Menanggapi pernyataan Campbell, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada Kamis mengatakan bahwa pernyataan tersebut mengabaikan fakta, secara terbuka dan tanpa pikir panjang membesar-besarkan ancaman Tiongkok, serta menyerukan konfrontasi antarkubu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

133 Kelompok Budidaya Ikan di Mataram Terima Bantuan Rp1,7 Miliar dari DKP.

133 Kelompok Budidaya Ikan di Mataram Terima Bantuan Rp1,7 Miliar dari DKP.

03 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.