Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo: Paus Fransiskus Membawa Perdamaian

📅 Selasa, 03 Sep 2024, 22:26 WIB | Oleh:
Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo: Paus Fransiskus Membawa Perdamaian Doc: ANTARA/Muhammad Iqbal
Ket. Paus Fransiskus (tengah) turun dari pesawat setibanya dari Vatikan di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (3/9/2024).

JAKARTA - Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo, mengatakan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia menjadi momen bersejarah, mengingat Paus terakhir yang mengunjungi Indonesia adalah Paus Yohannes Paulus II, 35 tahun lalu.

Pada tahun 1989, Paus Yohannes Paulus II melakukan kunjungan yang sangat berkesan ke Indonesia, di mana ia mengunjungi beberapa kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Maumere. Kunjungan tersebut disambut dengan antusias oleh jutaan umat Katolik dan menjadi simbol kuat akan keharmonisan antarumat beragama di Indonesia.

Kunjungan Paus Fransiskus saat ini diharapkan dapat melanjutkan warisan tersebut, sembari menyoroti tantangan-tantangan baru yang dihadapi dunia dalam hal perdamaian, keadilan sosial, dan dialog antaragama.

Menurut siaran persnya, Benny menekankan pentingnya kunjungan ini, yang menunjukkan Indonesia adalah negara Asia pertama yang dikunjungi oleh Paus Fransiskus dalam rangkaian lawatannya ke Asia Pasifik.

"Ini merupakan tanda cinta Paus terhadap bangsa Indonesia. Dengan ideologi Pancasila, Indonesia berhasil menyatukan 714 suku dan berbagai agama yang hidup berdampingan dengan damai," ungkap Benny.

Paus Fransiskus, dalam berbagai kesempatan, telah menekankan pentingnya persaudaraan sebagai fondasi bagi perdamaian global. Dalam ensikliknya yang berjudul Fratelli Tutti (Semua Bersaudara), Paus menggarisbawahi hanya dengan saling mengakui kita semua adalah saudara dan saudari, tanpa memandang perbedaan agama, budaya, atau etnis, kita dapat menciptakan dunia yang lebih damai dan adil.

Ia menambahkan Indonesia, meskipun merupakan negara dengan mayoritas penduduk Muslim, mampu menunjukkan harmoni antarumat beragama, sesuatu yang menarik perhatian Paus Fransiskus.

"Di Indonesia, meskipun ada kasus-kasus kecil yang bersifat reaktif, pada umumnya masyarakat hidup dengan damai dan tidak ada konflik besar yang memecah belah bangsa," jelasnya.

Salah satu poin menarik yang disampaikan adalah pengakuan Paus Fransiskus terhadap Indonesia sebagai contoh nyata bagaimana pluralisme bisa dijaga dengan baik.

Benny menggambarkan Indonesia sebagai "Taman Sari Dunia" sebuah metafora yang menggambarkan keragaman yang harmonis.

"Dengan 714 suku dan ratusan bahasa serta agama, Indonesia adalah contoh yang langka di dunia. Kita berhasil hidup berdampingan dengan damai, dan inilah yang menjadi daya tarik bagi Paus Fransiskus untuk mengunjungi kita," jelas pakar komunikasi politik tersebut.

Benny menekankan keberhasilan Indonesia dalam menjaga harmoni ini tidak terlepas dari ideologi Pancasila yang menjadi dasar negara. Pancasila, yang terdiri dari lima prinsip dasar, telah menjadi perekat yang mengikat seluruh rakyat Indonesia meskipun berbeda-beda latar belakang.

Prinsip-prinsip ini, menurut Benny, sangat selaras dengan ajaran Katolik yang juga menekankan pentingnya keadilan, kemanusiaan, dan perdamaian.

Dalam konteks ini, kunjungan Paus Fransiskus menjadi sangat relevan karena ia akan berdialog dengan berbagai tokoh agama di Indonesia, termasuk dengan para pemimpin Islam, Hindu, Buddha, dan agama lainnya. Dialog antaragama ini diharapkan dapat memperkuat ikatan persaudaraan yang sudah ada, serta memberikan inspirasi bagi negara-negara lain yang sedang berjuang menghadapi tantangan serupa.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Daerah
Surabaya Siapkan Sensor Pem...
Advertisement
Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

Lebih Tinggi dari India dan Laos, AS Tetapkan Tarif Antidumping Panel Surya Indonesia hingga 173,7 Persen

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.