Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Melihat Sisa Peninggalan Zaman Batu di Desa Adat Bawomataluo

📅 Sabtu, 31 Agu 2024, 06:25 WIB | Oleh:
Melihat Sisa Peninggalan Zaman Batu di Desa Adat Bawomataluo Doc: Istimewa

Setelah menikmati kesunyian dan mencoba bertahan hidup dalam konsep survivacation atau survival vacationK, atau menjalani bulan madu di Pulau Siroktabe yang tak berpenghuni, perjalanan di kepulauan Nias bisa dilanjutkan dengan melihat kekayaan budayanya.

Salah satu budaya khas Nias yang tidak dijumpai di tempat lain adalah lompat batu. Hal sangat menarik hingga menjadi gambar dalam mata uang kerta pecahan 10.000 rupiah, yang kini sudah sulit dicari karena sudah berganti dengan yang baru.

Untuk melihat upacara lompat batu bisa disaksikan di Desa Adat Bawomataluo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Lompat batu merupakan sebuah tradisi yang hanya dilakukan oleh laki-laki suku Nias.

Untuk melihat upacara ini bisa datang pada Festival Budaya Bawomataluo sebuah festival tahunan yang diadakan di desa ini sejak menyandang status sebagai desa budaya. Tradisi dalam bahasa Nias disebut dengan hombo atau fahombo.

Aksis tersebut biasanya dilakukan para pemuda dengan cara melompati tumpukan batu setinggi 2 meter. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa mereka yang berhasil melompat merupakan anak yang sudah pantas untuk dianggap dewasa secara fisik.

Berawal dari ritual adat, pada kenyataannya hombo kini telah bergeser menjadi olahraga tradisional Suku Nias. Lompat batu telah menjadi bagian dari kegiatan yang menghubungkan aktivitas fisik dengan ritual, seni, dan bela diri.

Batu yang dilompati berbentuk monumen piramida dengan bagian atas datar. Kesuksesannya bukan hanya diukur pada kemampuan melompatinya namun juga juga harus bisa mendarat dengan tetap dalam keadaan berdiri. Jika terjadi kesalahan risikonya berupa cedera otot bahkan patah tulang.

Selain melihat atraksi lompat batu di desa tersebut bisa melihat bangunan rumah adat, tradisi sisa peninggalan zaman megalitik, tarian tradisional. Cara terbaik berkunjung ke sini adalah pada saat diadakan Festival Budaya Bawomataluo yang diadakan setahun sekali.

Nama Bawomataluo berarti matahari terbit. Desa yang berada pada 324 meter di atas permukaan laut (mdpl) memang sangat cocok untuk melihat matahari tersebut karena berada di tempat yang lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya.

Bawomataluo diperkirakan desa ini telah ada sejak abad ke-18. Titik ketinggian ini dipilih untuk memantau wilayah di sekitar sekaligus sebagai benteng pertahanan jika terjadi penyusupan oleh musuh. Saat itu mereka saling berperang satu sama lain untuk memperluas atau mempertahankan teritorial kampung mereka.

Dari ketinggian desa Bawomataluo kini wisatawan dapat menyaksikan pemandangan dengan latar belakang Desa Orahili dan pemandangan Pantai Sorake serta Teluk Lagundri yang berada di tenggara pulau. Kedua pantai yang berada di teluk dikenal sebagai surga bagi para peselancar (surfer) dari berbagai negara.

Tak jauh dari gerbang desa adat Bawomataluo yang menanjak, deretan omo hada atau rumah adat mulai terlihat di sisi kanan kiri jalan. Rumah tradisional ini menjadi tempat tinggal para kepala negeri atau tuhenon, kepala desa atau salawa, dan kaum bangsawan.

Pada omo hada, bangunannya berbentuk persegi dan terdapat tiang-tiang dari kayu serta atap rumbia. Rumah adat ini tampak sama namun jika dilihat lebih jeli ada beberapa perbedaan pada ukuran, tinggi, serta tangga masuk ke dalam rumah.

Ternyata perbedaan ini disengaja dengan tujuan untuk membedakan strata sosial pemilik rumah. Biasanya di depan rumah ada tugu batu, dan semakin tinggi tugu tersebut, maka melambangkan status sosial seseorang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

52 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
Nasional
Tanggapan Istana Usai Wamen...
Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.