Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Nadiem: Pembelajaran Perubahan Iklim Jangan Membebani

📅 Kamis, 29 Agu 2024, 03:03 WIB | Oleh:
Nadiem: Pembelajaran Perubahan Iklim Jangan Membebani Doc: Istimewa
Ket. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, saat merilis Panduan Pendidikan Perubahan Iklim, di Jakarta, Rabu (28/8).

Mendikbudristek Nadiem Makarim meminta pihak sekolah untuk tidak membebani orang tua dalam pembelajaran perubahan iklim dengan memanfaatkan fasilitas yang dimiliki sekolah.

JAKARTA - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim, meminta pihak sekolah agar tidak membebani orang tua dalam menyampaikan pembelajaran perubahan iklim. Menurutnya, sekolah cukup memfasilitasi dengan fasilitas yang tersedia.

"Jika sekolah memilih tema perubahan iklim, kami mendorong agar implementasinya memanfaatkan aset yang memang dimiliki sekolah, sehingga tidak membebani orang tua dengan biaya tambahan," ujar Nadiem, saat merilis Panduan Pendidikan Perubahan Iklim, di Jakarta, Rabu (28/8).

Dia menjelaskan, perubahan iklim ditawarkan sebagai sebuah pilihan tema untuk Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), bukan suatu kewajiban. Menurutnya, pendidikan perubahan iklim dapat diterapkan dengan baik dengan dukungan dari seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dan orang tua.

"Kolaborasi kita semua adalah kunci keberhasilan dari implementasi pendidikan perubahan iklim," jelasnya.

Panduan Belajar

Nadiem menyebut, setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menerapkan cara hidup yang ramah lingkungan untuk masa depan bumi dan lingkungan. Selain itu, penting untuk mempersiapkan generasi penerus untuk mengembangkan ekonomi hijau, yang saat ini telah menjadi salah satu sektor prioritas nasional.

Dia menambahkan, Panduan Pendidikan Perubahan Iklim merupakan bagian dari Kurikulum Merdeka. Panduan tersebut bisa membantu semua pihak menerapkan pendidikan yang memperkuat kesadaran perubahan iklim. "Di dalamnya memuat berbagai langkah kolaboratif untuk menanggulanginya," kata Nadiem.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Kemendikbudristek, Anindito Aditomo, menyebutkan pentingnya pemahaman dan kesadaran sejak dini terhadap isu perubahan iklim, yang juga dapat terjadi karena aktivitas manusia (antropogenik). Dengan demikian, anak-anak bisa mempersiapkan diri dan berperan aktif dalam merespons perubahan iklim.

"Krisis iklim yang sedang terjadi akan sangat dirasakan oleh anak-anak dan generasi muda. Jika tidak diantisipasi, kelak akan berdampak sangat besar pada hasil belajar dan kesejahteraan hidup mereka," ucapnya.

Dia menerangkan, Panduan Pendidikan Perubahan Iklim berisi pengantar tentang krisis iklim, penyebab, dampak, hingga hal yang dapat dilakukan untuk meresponsnya. Publik dapat mengakses dan mempelajari lebih lanjut Panduan Pendidikan Perubahan Iklim melalui laman kurikulum.kemdikbud.go.id.

"Kita menggunakan prinsip dan pendekatan yang RAMAH dalam Kurikulum Merdeka pada penerapan pendidikan perubahan iklim, yaitu Relevan, Afektif, Merujuk Pengetahuan, Aksi Nyata, dan Holistik," terangnya.

Panduan ini disusun melalui proses partisipatif dan kolaboratif. Dalam penyusunannya sejak Juni 2023, Kemendikbudristek telah melibatkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain kementerian/lembaga terkait, pemerintah daerah, akademisi, kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan, komunitas, serta lembaga swadaya masyarakat.

Karena itu, Anindito mengapresiasi berbagai sekolah di Indonesia yang telah memulai inisiasi baik dalam menanggulangi dampak perubahan iklim. "Panduan Pendidikan Perubahan Iklim ini merupakan alat bantu dalam implementasi. Sekolah dapat menerapkan pendidikan perubahan iklim secara fleksibel dan menggunakan sumber daya yang ada. Kami berharap melalui panduan ini berbagai praktik baik yang sudah berjalan bisa menjadi inspirasi yang lebih masif lagi," imbuhnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Manusia Tak Beradab, Penyembelih Binatang Superlangka, Tapir, Harus Dihukum Berat

Manusia Tak Beradab, Penyembelih Binatang Superlangka, Tapir, Harus Dihukum Berat

03 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.