Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Anak Keluarga Mapan Bisa Terkena Stunting, Mengapa Demikian?

📅 Minggu, 25 Agu 2024, 13:50 WIB | Oleh: Tim Penulis

Studi lainnya menunjukkan bagaimana pola makan ibu selama kehamilan memengaruhi kualitas sensorik cairan ketuban dan ASI, yang dapat membentuk preferensi makanan bayi dan berpotensi memberikan hasil kesehatan yang lebih baik di awal kehidupannya. Sementara pada anak di atas lebih dari satu tahun, peran orang tua, terutama pola asuhan dan pola asupan, banyak memengaruhi situasi status gizinya.

Sebaliknya, asupan makanan yang kurang dan kondisi ekologi yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko infeksi pada anak-anak, yang dapat mengganggu penyerapan nutrisi.

Menurut jurnal internasional yang menyoroti dampak positif pendidikan gizi ibu terhadap status gizi anak, intervensi yang bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu tentang nutrisi yang tepat, termasuk dalam pemberian ASI dan praktik pemberian makan, telah terbukti meningkatkan pertumbuhan anak dan mengurangi angka stunting.

Maka dari itu, mendidik calon orang tua tentang pentingnya pola makan yang beragam dan bergizi bagi ibu hamil dapat menghasilkan praktik pemberian makan yang lebih baik dan hasil yang lebih sehat bagi anak-anak mereka.

Pengaruh pendidikan

Pada karakteristik keluarga dengan ekonomi mapan, namun memiliki tingkat pendidikan yang rendah, lebih signifikan untuk memiliki anak yang berisiko stunting. Orang tua dengan pendidikan yang memadai cenderung akan lebih selektif dan kreatif dalam memberikan makanan yang baik dan bergizi pada anaknya.

Pada karateristik yang berbeda, meskipun kondisi ekonomi keluarga sangat baik, anak-anak yang diasuh dengan kondisi ibu yang bekerja lebih baik dari pada yang tidak bekerja. Ini karena kondisi ibu yang bekerja biasanya mencerminkan pendapatan dan standar hidup yang lebih tinggi dalam menyiapkan makanan bergizi pada anak-anaknya.

Situasi tersebut dapat terjadi umumnya karena proses pendidikan sebaya (peer education) dengan sesama ibu bekerja. Di tempat kerja, mereka banyak berkonsultasi, berkomunikasi, dan berdiskusi dengan sesama ibu bekerja. Di sisi lain, ibu bekerja dapat mengompensasi waktu yang terbatas untuk merawat anak dengan menggunakan fasilitas penitipan anak yang berkualitas, menyediakan makanan sehat, dan mempekerjakan asisten rumah tangga yang dapat membantu dalam merawat anak selama ibu bekerja.

Terjadinya anomali pada keluarga mampu secara ekonomi ini semakin menambah kompleksitas permasalahan penurunan program stunting jika terus-menerus luput dari perhatian pemerintah.

Penyebab pola asuh yang kurang optimal, kondisi lingkungan yang kurang bersih, atau mengalami polusi, akses ke informasi gizi kesehatan yang tepat dan hal ini perlu benar-benar dipetakan. Kondisi keluarga ini perlu dilakukan pendekatan yang spesifik dalam kaitan dengan tindakan yang memastikan kondisi orang tua dan anak dalam keadaan sehat.

Pemerintah harus mulai fokus juga pada keluarga yang mampu secara ekonomi untuk mempercepat penurunan prevalensi stunting pada di Indonesia. Caranya bisa dengan memasukkan materi tentang pola pengasuhan anak yang baik pada kelas ibu hamil untuk menambah pengetahuan calon orang tua. Upaya penanggulangan stunting tidak hanya terfokus secara langsung pada status gizi anak, tetapi juga harus memerhatikan pengetahuan orang tua dalam mengasuh dan memberi asupan anak.The Conversation

Iswari Hariastuti, Periset, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Agung Dwi Laksono, Peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.