Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Anak Keluarga Mapan Bisa Terkena Stunting, Mengapa Demikian?

📅 Minggu, 25 Agu 2024, 13:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Anak Keluarga Mapan Bisa Terkena Stunting, Mengapa Demikian? Doc: ANTARA/Yusuf Nugroho
Ket. Pengukuran intervensi serentak pencegahan stunting di Kudus, Jawa Tengah.

Iswari Hariastuti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Agung Dwi Laksono, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Mochammad Wahyu Ghani, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Pemerintah Indonesia telah menerapkan berbagai upaya dari tingkat pusat sampai level akar rumput demi menurunkan level stunting ke angka 14% tahun ini. Namun, hal tersebut sulit terealisasi mengingat pada 2023, prevalensi angka stunting hanya menunjukkan penurunan 0,1%, dari 21,6% pada tahun sebelumnya menjadi menjadi 21,5%.

Berbagai temuan menyebutkan bahwa sebagian besar anak stunting berasal dari keluarga miskin sehingga fokus intervensi pemerintah lebih banyak pada keluarga marginal. Namun, studi terbaru menemukan adanya anomali pada populasi kelompok ekonomi menengah ke atas di Indonesia, yakni bahwa 12,5% anak umur di bawah dua tahun di populasi tersebut mengalami stunting.

Kelompok ini, kelas ekonomi menengah ke atas, yang kerap tak menjadi sasaran program bisa jadi salah satu faktor yang menjegal taget pemerintah.

Anomali 'stunting' pada keluarga menengah ke atas

Stunting biasanya disebabkan oleh kerawanan pangan, kurangnya perawatan, praktik pemberian makan yang tidak benar, pemberian makanan tidak sesuai jadwal atau asupan nutrisi yang tidak memadai, sanitasi yang buruk, dan layanan kesehatan yang tidak memadai.

Namun, studi terbaru Survei Status Gizi nasional 2021 yang melibatkan 23.957 anak menunjukkan bahwa faktor penyebab stunting di kelompok ekonomi menengah ke atas ini terjadi karena kurangnya waktu untuk menyusui sehingga memengaruhi gizi anak.

Menurut hasil survei kesehatan yang terbaru, kondisi stunting terbanyak (40,4%) dialami anak pada usia 12-23 bulan. Pada rentang usia ini, orang tua umumnya telah kembali sibuk dengan rutinitas pekerjaannya meski anak masih memerlukan pola asuh yang benar dalam mencukupkan gizinya.

Menyusui secara eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan hingga dua tahun merupakan salah satu faktor penting untuk mencegah stunting. Masalahnya, Ibu yang bekerja mungkin memiliki waktu menyusui lebih sedikit karena tuntutan pekerjaan. Belum lagi jika mereka mengalami stres akibat kesibukannya pekerjaannya. Ini dapat memengaruhi produksi ASI.

Selain itu, anak yang kedua orang tuanya bekerja biasanya mengandalkan pengasuh untuk merawat anak mereka. Sementara tidak banyak pengasuh anak yang memiliki pengetahuan atau keterampilan yang kompeten dalam memberikan makanan bergizi dan stimulasi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang dengan maksimal.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan orang tua tunggal kemungkinan lebih besar terancam stunting. Prevalensi angka stunting di kelompok ini lebih tinggi (13,6%) dibandingkan anak dengan orang tua lengkap (12,5%).

Studi tentang faktor penentu 'stunting'

Anak-anak yang berusia 12 bulan ke atas memiliki kemungkinan lebih dari tiga kali lipat lebih tinggi untuk mengalami stunting dibandingkan dengan anak-anak yang lebih muda atau kurang dari 12 bulan. Riset membuktikan bahwa anak berusia kurang dari satu tahun sering kali mempunyai kondisi kesehatan lebih baik karena faktor ibu selama kehamilan, seperti sosiodemografi, perilaku, dan pengobatan ibu selama kehamilan. Hal tersebut dapat menentukan perkembangan saraf pada bayi dalam tahun pertama kehidupannya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Tim Piala Dunia, Maroko Dapat Menjadi Kuda Hitam

18 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Maroko Dap...
Olahraga
Laga Generasi Baru Menuju F...

Tim Piala Dunia, Mampukan Brasil Juara Keenam Kalinya?

30 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Mampukan B...
Nasional
Dongkrak Kedatangan Turis, ...
Rona
Sering Melotot Belum Tentu ...
Daerah
RSUD Prambanan Ada Bau-bau ...
Daerah
Siswa Jalani Ujian Kenaikan...

Antisipasi Kemarau, Masa Tanam Dipercepat

53 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Antisipasi Kemarau, Masa Ta...
Daerah
Cukup Bagus Hasil Penanaman...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.