Surplus Terus Menurun, Pertanda Ekonomi Nasional Hadapi Masalah Serius
📅 Jumat, 16 Agu 2024, 00:05 WIB | Oleh: Tim RedaksiImpor dari Tiongkok memang masih mendominasi dan kebijakan menangkal tersebut baru saja disahkan, sehingga belum terlihat efeknya.
Jika kondisi tersebut terus berlanjut bisa menyebabkan kondisi defisit perdagangan pertama kali dalam 52 bulan terakhir.
"Ini selanjutnya bisa menyebabkan pelemahan nilai mata uang rupiah lebih tajam," kata Huda.
Ia menyarankan pemerintah agar secepatnya melakukan sejumlah langkah strategis, yang pertama dengan menggenjot ekspor terutama komoditas nonmigas yang memang jadi andalan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Perlunya pembukaan pasar baru sehingga tidak mengandalkan traditional market seperti AS dan Jepang yang memang tengah mengalami goncangan ekonomi," ungkapnya.
Langkah kedua adalah pembatasan impor untuk produk-produk tertentu melalui Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) maupun Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP).
Pada kesempatan terpisah, pakar Hubungan Internasional dari Universitas Airlangga Surabaya, Citra Hennida, mengatakan turunnya surplus neraca perdagangan harus diantisipasi dengan diversifikasi pasar, terutama dengan melirik negara- negara yang potensial membutuhkan produk-produk ekspor RI.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pemerintah hendaknya jangan terus bertumpu pada negara-negara tujuan ekspor utama, seperti AS, Tiongkok, dan Singapura.
Kita juga harus mulai mencari pasar-pasar baru yang potensial sebagai tujuan ekspor," kata Citra.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!