Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Surplus Terus Menurun, Pertanda Ekonomi Nasional Hadapi Masalah Serius

📅 Jumat, 16 Agu 2024, 00:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Surplus Terus Menurun, Pertanda Ekonomi Nasional Hadapi Masalah Serius Doc: istimewa

JAKARTA - Surplus neraca perdagangan dalam beberapa bulan terakhir terus menurun.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia pada Juli 2024 surplus 0,47 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau turun sebesar 1,92 miliar dollar AS secara bulanan.

Pelaksana Tugas Kepala BPS, Amalia A. Widyasanti, dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (15/8), menyatakan surplus pada Juli lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya ataupun dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.

Surplus neraca perdagangan Juli 2024, jelas Amalia, ditopang surplus pada komoditas nonmigas sebesar 2,61 miliar dollar AS dengan komoditas penyumbang surplus utama adalah bahan bakar mineral, terutama batu bara, lemak dan minyak nabati, serta besi dan baja.

Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit 2,13 miliar dollar AS dengan komoditas penyumbang defisit adalah hasil minyak dan minyak mentah.

"Defisit neraca perdagangan migas pada Juli 2024 lebih dalam dari bulan sebelumnya ataupun bulan yang sama tahun lalu," kata Amalia.

BPS, tambahnya, juga mencatat Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan dengan beberapa negara, dan tiga terbesarnya adalah AS senilai 1,27 miliar dollar AS, India 1,23 miliar dollar AS, dan Filipina 740 juta dollar AS.

Indonesia juga mencatat defisit neraca perdagangan dengan beberapa negara.

Adapun tiga terdalam, yaitu Tiongkok sebesar 1,7 miliar dollar AS, Australia sebesar 602 juta dollar AS, dan Singapura 402 juta dollar AS.

Secara kumulatif hingga Juli 2024, surplus neraca perdagangan barang Indonesia mencapai 15,92 miliar dollar AS atau mengalami penurunan 5,28 miliar dollar AS dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Masalah Serius

Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, yang diminta pendapatnya mengatakan laporan BPS ini menandakan ekonomi nasional sedang mengalami masalah serius, dan pemerintah semestinya cepat mengatasi agar tidak berlangsung lama.

"Ini harus dilihat secara hati-hati mengingat pertumbuhan impor jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor secara total," urai Huda.

Dia pun menyoroti impor nonmigas yang meningkat 19,76 persen secara month to month (mtm).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.