RI Abai Bangun Kemandirian Ekonomi
📅 Senin, 22 Apr 2024, 08:47 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
JAKARTA - Indonesia lupa membangun kemandirian ekonomi, akibatnya begitu terjadi gejolak geopolitik, RI rentan terdampak. Pemerintah lupa membangun kemandirian, baik energi, pangan, maupun bahan baku dan produk-produk hasil industri.
Fenomena tersebut nyata terjadi saat ini. Ketika kawasan Timur Tengah bergejolak akibat konflik Iran dan Israel, pasokan minyak untuk kebutuhan domestik kita terganggu. Pemerintah terpaksa harus bermanuver mencari sumber impor baru.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira, mengatakan fluktuasi harga minyak menyebabkan biaya produksi energi menjadi tidak pasti dalam jangka panjang.
"Harusnya kan belajar dari setiap minyak mahal, bengkak subsidinya dan ruang fiskal jadi sempit plus BUMN keuangan tertekan. Tetapi, upaya untuk beralih ke energi baru dan terbarukan (EBT) juga belum optimal, masih sedikit investasi dari APBN langsung untuk instalasi EBT. Banyak hal luput dan berakibat fundamental ekonomi rapuh,"ucapnya pada Koran Jakarta, Minggu (21/4).
Tak hanya sektor energi, rentannya ekonomi di Indonesia secara eksternal juga tidak terlepas dari besarnya kebutuhan impor pangan hingga bahan baku dan barang konsumsi lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Impor beras empat juta ton, gula 5,4 juta ton dan berbagai produk pangan lain terlalu dominan impornya. Masalahnya impor kalau barangnya mahal, bayarnya pakai dollar AS justru makin menurunkan kekuatan rupiah," ungkap Bhima.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, dari Yogyakarta. Dia mengatakan banyak hal yang membuat kita tidak kunjung mencapai kemandirian ekonomi.
"Transformasi sosial ekonomi kita yang masih terkendala berbagai problem struktural, khususnya ekonomi politik di berbagai sektor yang masih sarat dengan kepentingan oligarki global dan domestik," tegasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Manajer Riset Seknas Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi, mengatakan dampak perang Iran-Israel akan berdampak pada situasi dunia seperti sektor energi dan ekonomi secara umum. Masyarakat tentu bertanya-tanya apa upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengantisipasi ketidakstabilan dunia.
"Sementara kita tahu, sebelum perang Iran-Israel, masyarakat Indonesia sudah menghadapi situasi yang pelik terutama di sektor pangan. Mahalnya harga beras, dan kebutuhan pokok," urainya.
Sektor industri pengolahan (manufaktur), data BPS (2023) berkontribusi 18,6+ persen dari total perekonomian Indonesia.
Disektor energi, masyarakat juga dihadapkan pada situasi harga BBM yang mengalami kenaikan. Sisi lain, ketergantungan energi pada fosil masih sangat tinggi. Data Dewan Energi Nasional (DEN) menunjukkan batu bara masih mendominasi. Sementara itu, bauran EBT pada tahun 2023 hanya tercapai 13,09 pedsen sedangkan target yang di patok 17,87 persen.
"Berkaca pada data yang ada, pemerintah perlu menyusun strategi kebijakan dalam menyikapi kondisi dunia yang terdampak perang Iran-Israel, terutama memperkuat ketahanan pangan melalui penguatan produksi dalam negeri," ujar Badiul.
Cadangan Pangan
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!