Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mengenal Hidrogen Hijau dan Tantangannya untuk Transisi Energi Indonesia

📅 Selasa, 26 Mar 2024, 11:25 WIB | Oleh: Tim Penulis

Hidrogen sebenarnya sudah jamak dipakai untuk beberapa proses produksi pupuk ataupun pengolahan minyak bumi. Namun, hidrogen ini masih berasal dari sumber fosil sehingga tidak ramah lingkungan. Karena itulah, transisi energi terbarukan menjadi peluang besar untuk bersih-bersih jejak emisi hidrogen.

1. Pembuatan pupuk

Pengajar senior bidang teknik kimia dari University of Aberdeen di Inggris, Tom Baxter, mengemukakan bahwa hidrogen adalah salah satu elemen kunci untuk pembuatan bahan kimia bermanfaat bagi manusia. Salah satunya adalah pembuatan pupuk.

Dalam industri pupuk, hidrogen digunakan sebagai bahan baku pembuatan amonia. Walhasil selain sumber energi, secara tidak langsung hidrogen adalah tulang punggung ketahanan pangan global.

Tom mengatakan, hidrogen hijau potensial betul untuk mengurangi jejak karbon industri pupuk. "Tindakan hidrogen pertama yang harus kita lakukan adalah mendekarbonisasi produksi hidrogen yang menghasilkan CO?," paparnya.

Di Indonesia, hidrogen hijau juga direncanakan menjadi bahan baku pembuatan amonia hijau sebagai bahan baku pupuk. Proyek tersebut diinisiasi oleh Augustus Global Investment, PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT PLN (Persero) untuk menghidupkan kembali sentra ekonomi di Lhokseumawe, Aceh, pada 2023.

2. Transportasi

Sebagai sumber energi, hidrogen sangat unggul karena memiliki kerapatan energi (energy density) sekitar 33,33 kilowatt jam per kilogram. Semakin tinggi kerapatan energi, maka semakin banyak energi yang tersimpan dalam volume tertentu sehingga produksi energi bisa lebih besar.

Menurut peneliti dari Centre for the Global Hydrogen Economy, Particles and Catalysis Research Laboratory, UNSW Sydney di Australia, Denny Gunawan, angka tersebut jauh lebih tinggi dari baterai kendaraan listrik.

Kendaraan dengan bahan bakar hidrogen pun, kata Denny, hanya membutuhkan waktu 3-5 menit untuk proses isi ulang hingga penuh. Ini jauh lebih cepat dari isi ulang daya baterai pada kendaraan listrik yang memakan waktu 20 menit - 1 jam untuk DC fast charging atau 4-10 jam untuk home charging.

Walau begitu, Denny menganggap hidrogen akan jauh lebih bermanfaat meredam emisi dari bus, truk, dan kapal. Ketiga moda transportasi ini yang memiliki beban kerja dan jarak tempuh lebih besar. "Sehingga lebih layak menggunakan hidrogen yang lebih ringan dengan waktu isi ulang lebih cepat," tulis dia.

3. Listrik dan penyimpanan energi

Profesor bidang katalis dan material penyimpanan energi dari Utrecht University Belanda, Petra de Jongh, mengatakan hidrogen dapat diandalkan untuk menjadi penyimpan kelebihan energi listrik tenaga surya maupun angin. Sebaliknya, saat angin melemah ataupun awan mendung, penyimpanan energi hidrogen dapat bekerja menopang produksi listrik yang berkurang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank
    Preview komentar:
    Ini sudah masuk kategori -menghalang-halangi penyampaian pendapat- atau ...
  • Kemenperin Ajak IKM Jadi Pemasok Industri Kendaraan Listrik Nasional
    Preview komentar:
    Langkah Kemenperin yang menjembatani kebutuhan OEM dengan kapasitas ...
  • Bukan Sekadar Hobi, Industri Modifikasi Otomotif jadi Bagian Ekraf, Ciptakan Nilai Tambah Ekonomi
    Preview komentar:
    Langkah kolaboratif antara NMAA, IMI, dan pemerintah ini ...
Nasional
DPR Dorong Pemerintah Buka ...
Megapolitan
Parkir Rp60.000 per Jam Bik...
Megapolitan
Nasib 193 Pedagang Ikan Kra...
Megapolitan
Pedagang Ikan Pasar Kramat ...
Daerah
Kabut asap batasi jarak pan...
Ekonomi
Di BNI WondrX 2026, BNI Sek...
Megapolitan
Berlatih menari balet di Ga...
Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

Heboh Rekening Aktivis Pati Diduga Diblokir, DPR Buka Suara dan Hubungi Bank

24 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.