Mengenal Hidrogen Hijau dan Tantangannya untuk Transisi Energi Indonesia
📅 Selasa, 26 Mar 2024, 11:25 WIB | Oleh: Tim Penulis"Dibandingkan dengan baterai, kapasitas penyimpanan hidrogen tidak terbatas-elektroliser yang memproduksinya dari air tidak pernah terisi penuh. Hidrogen juga dapat diubah kembali menjadi listrik menggunakan sel tunam (fuel cell), meskipun cukup banyak energi yang hilang dalam prosesnya," ujar Petra dalam analisisnya.
4. Industri berat
Pengajar bidang fisika energi dari University of South Wales, Stephen Carr, mengatakan hidrogen adalah energi yang menjanjikan untuk membuat sektor industri lebih ramah lingkungan. Dia mencontohkan industri keramik yang membutuhkan energi panas untuk menyalakan tungku.
Saat ini, pelaku industri keramik masih menggunakan gas alam untuk menyalakan tungku tersebut. Ke depannya, gas ini bisa digantikan hidrogen supaya proses produksi keramik lebih ramah lingkungan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Mengganti gas alam dengan hidrogen dalam tungku bakar secara keseluruhan bisa lebih murah, dan hanya memerlukan sedikit perubahan pada peralatan," tulis Stephen.
Mengembangkan ekosistem hidrogen nasional
Sebagai negara dengan potensi energi terbarukan yang besar, Indonesia memiliki modal kuat untuk memproduksi lebih banyak hidrogen hijau.
Sebaiknya Anda baca juga:
Langkah ini sudah dimulai oleh PT Pertamina (Persero) yang membangun fasilitas produksi hidrogen hijau berbasis panas bumi di Ulubelu, Lampung dan prastudi di Sulawesi Utara.
Berdasarkan pemetaan perseroan, ada 17 wilayah kerja panas bumi yang bisa dimanfaatkan sebagai sarana produksi hidrogen hijau.
Selain Pertamina, PLN juga berusaha memproduksi panas bumi menghasilkan hidrogen dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Kamojang, Garut. Hidrogen hijau dari Kamojang akan memasok stasiun pengisian hidrogen hijau di Senayan, Jakarta Pusat.
Denny dari UNSW Sydney mengatakan, Pertamina dan PLN perlu berkolaborasi menyusun rencana teknis agar pengembangan rantai pasok hidrogen hijau sektor transportasi lebih harmonis. Menurut dia, ada dua opsi kerja sama rantai pasok. Pertama, hidrogen hijau bisa diproduksi terpusat dekat pembangkit listrik energi terbarukan milik Pertamina atau PLN. Kemudian, hidrogen hijau didistribusikan melalui truk/trailer ke stasiun pengisian hidrogen.
"Dalam hal ini pengalaman Pertamina dalam produksi hidrogen berskala besar berperan penting," ujar dia melalui pesan tertulis pada Kamis, 14 Maret 2024.
Kedua, hidrogen hijau bisa diproduksi langsung di stasiun pengisian kedua perseroan untuk menghemat biaya transportasi. Dalam opsi ini, peran PLN cukup penting untuk menyediakan infrastruktur distribusi listrik energi terbarukan ke stasiun pengisian hidrogen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!