Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

PBB: Indeks Harga Pangan Dunia Turun selama Tujuh Bulan Berturut-turut

📅 Sabtu, 09 Mar 2024, 00:02 WIB | Oleh:
PBB: Indeks Harga Pangan Dunia Turun selama Tujuh Bulan Berturut-turut Doc: istimewa
Ket. Para pekerja mengayak gandum sebelum mengisi karung di halaman pasar Komite Pemasaran Produk Pertanian, di pinggiran Ahmedabad.

LONDON - Indeks harga dunia yang dikeluarkan Organisasi Pangan dan Pertanian atauFood and Agriculture Organization (FAO) untuk bulan Februari, Jumat (8/3), turun selama tujuh bulan berturut-turut, karena penurunan harga semua jenis sereal utama tidak mampu mengimbangi kenaikan harga gula dan daging.

"Indeks hargayang melacak komoditas pangan yang paling banyak diperdagangkan secara global, rata-rata mencapai 117,3 poin pada bulan Februari, turun dari revisi 118,2 poin pada bulan sebelumnya," kata FAO.

Dikutip dariThe Straits Times, angka Februari merupakan yang terendah sejak Februari 2021.

Indeks sereal turun 5 persen bulan ke bulan di bulan Februari menjadi 22,3 persen di bawah level tahun lalu berkat ekspektasi panen jagung dalam jumlah besar di Amerika Selatan dan harga kompetitif yang ditawarkan oleh Ukraina.

Harga minyak nabati turun 1,3 persen di bulan Februari dari bulan Januari menjadi 11 persen di bawah harga tahun lalu di tengah prospek melimpahnya pasokan di Amerika Selatan. Harga minyak lobak dan minyak bunga matahari juga turun karena banyaknya ekspor.

Sebaliknya, indeks gula badan PBB tersebut naik 3,2 persen bulan ke bulan di bulan Februari, mencerminkan kekhawatiran yang terus-menerus terhadap output produsen utama Brasil dan perkiraan penurunan produksi di Thailand dan India.

Dalam laporan terpisah mengenai pasokan dan permintaan sereal, FAOmenaikkan perkiraan produksi sereal tahun 2023 sebesar 1,1 persen dari tahun sebelumnya menjadi 2.840 juta metrik ton berkat peningkatan pasokan jagung di Brasil, Tiongkok, dan Amerika Serikat.

Menatap tahun 2024, badan PBB tersebut mematok produksi gandum naik 1 persen dari tahun sebelumnya menjadi 797 juta ton berkat cuaca yang baik di Amerika Utara dan eksportir utama Russia, serta di Tiongkok, India, Iran, Pakistan, dan Turki.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Gempa Venezuela: Peru Putus...
  • Dua Minggu Hilang, Seekor Jerapah Bernama Gracie Ditemukan Segar Bugar 6 Km dari Kandangnya di Texas
    Preview komentar:
    Siapa juga yang mau nyuri Jerapah :) Dia ...
  • Dalam 3 Tahun Terakhir, 114 Orang Menabrakkan Diri di Jalur Kereta Api
    Preview komentar:
    Mereka adalah korban tekanan hidup dan ketidakberdayaan sbg ...
  • Hasil Pertandingan Grup F Piala Dunia 2026: Jepang Kuntit Belanda Usai Singkirkan Tunisia dengan Skor Telak 4-0
    Preview komentar:
Awas! Modus Baru Judol Lewat Komentar Medsos, Tunggangi Piala Dunia 2026, Ini Temuan Kemkomdigi

Awas! Modus Baru Judol Lewat Komentar Medsos, Tunggangi Piala Dunia 2026, Ini Temuan Kemkomdigi

29 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.